download

“Gua rasa dia itu nggak ngerti apa-apa. Meski dia itu dosen di perguruan tinggi negeri dan lulusan S2 dari universitas terkenal di luar negeri, dan gua cuma sarjana dari universitas swasta di dalem negeri, tapi gua lebih paham masalah ini.”

Jika memahami secara “tekstual” maka orang yang menyatakan pendapat di atas bisa dikategorikan orang sombong dan munafik. Hanya lulusan S1 tetapi merasa lebih pintar daripada seorang dosen yang bergelar master dari universitas di luar negeri. Pendapat orang itu tidak lebih bisa dipercaya dibanding pendapat dosen yang ia sebutkan itu.

Jika memahami secara “kontekstual” maka kita harus menelusuri lebih dalam latar belakang orang yang menyatakan pendapat di atas dan juga sang dosen yang disebutkannya. Didapat fakta bahwa orang itu adalah sarjana agama Islam dari universitas swasta di Indonesia, pernah menempuh pendidikan pesantren dari umur 6 tahun, dan bekerja sebagai pengurus pesantren di Jawa Timur, juga gemar membaca buku-buku sejarah. Ditemukan fakta juga bahwa sang dosen adalah pengajar tetap di universitas negeri jurusan ilmu komunikasi di Yogyakarta, pernah mendapatkan beasiswa untuk berkuliah di Amerika Serikat dan lulus dengan predikat ‘cum laude’ pada bidang ilmu komunikasi. Sejak SD hingga kuliah, sang dosen menempuh pendidikan di sekolah dan universitas negeri, serta tidak pernah belajar di pondok pesantren, tetapi ia pernah belajar mengaji di TPA dekat rumahnya sehingga terdengar sangat merdu ketika ia membacakan ayat suci Al-Quran. Oleh karena fakta-fakta tersebut, orang yang menyatakan pendapat itu berhak menyejajarkan diri dengan sang dosen.

Dalam tinjauan yang lebih menyeluruh, ternyata “masalah” yang diperdebatkan oleh sang penyata pendapat dan sang dosen adalah perihal ajaran agama Islam dan sejarah perkembangnya di dunia. Maka pendapat di atas bisa dikategorikan sebuah kepercayaan diri dari seorang sarjana agama Islam terhadap pengetahuan dari dosen jurusan ilmu komunikasi. Jika dipandang lebih objektif lagi, penyata pendapat di atas berpotensi besar memiliki pengetahuan agama Islam dan sejarah lebih banyak daripada sang dosen dalam pendapatnya itu. Sang penyata pendapat tidak meragukan pengetahuan ilmu komunikasi sang dosen, tetapi dalam “masalah” agama Islam dan sejarahnya, ia merasa lebih memahami banyak hal daripada sang dosen.

Advertisements