logia

Kemajuan teknologi yang menghasilkan suatu produk bernama smartphone ternyata tidak dibarengi dengan meningkatnya kualitas sumber daya manusia yang seharusnya lebih smart. Mungkin ini salah pemerintah dan juga pihak swasta, terutama di bidang pendidikan, yang gagal memberikan literasi media kepada masyarakat. Lembaga pendidikan hanya dijadikan bisnis untuk menghasilkan siswa  yang memiliki nilai rapot baik di sekolah dan mahasiswa bergelar keren dari universitas ternama.

Hal yang sering terlupakan dalam masyarakat saat ini adalah pendidikan non-formal. Jadi jangan terlalu cepat juga menyalahkan pihak lain, sedangkan terkadang kita pun tidak berperan dalam mendidik lingkungan sekitar kita. Inilah sebuah fenomena klasik, dimana banyak orang ingin merasakan perubahan namun tidak mau berperan melakukan perubahan tersebut.

Di zaman yang serba cepat ini, tantangan untuk tidak begitu saja terbawa arus deras informasi akan semakin berat. Sebuah informasi dengan mudah dapat di-copy dan paste lewat berbagai social media. Namun dari siapa awal mula informasi itu dibuat pun tidak ada yang tahu. Sulit untuk menentukan suatu kebenaran dari sebuah tulisan di dunia maya karena subjektivitas sang penulis yang sering kali tidak kita ketahui dasarnya. Oleh karena itulah, proses kembalinya manusia banyak membaca buku sangat diperlukan dalam mengolah informasi. Sepertinya, penekanan kata “banyak membaca buku” perlu dilakukan. Maksudnya tidak 1 jenis buku saja dengan hanya berbeda judul dan/atau penulis. Karena semua diawali dari pikiran, maka bahan baku pembentuk pikiran sangatlah penting.

Hal penting yang harus dilalui dalam mengambil kesimpulan suatu informasi adalah tabayyun. Proses ini memang terkadang sulit sekali dilakukan tetapi bisa digantikan dengan cara lain seperti melakukan dialektika (tesis, antitesis, sintesis) dari bebagai sumber yang bisa dipercaya. Misalnya menyikapi buku tulisan Tan Malaka, perlu juga membaca buku tulisan Bung Karno dan Bung Hatta. Ada pun juga berita tentang Orde Baru, perlu diimbangi dengan berita tentang Orde Lama dan Era Reformasi. Hal ini sulit dilakukan karena kita mungkin saja belum dilahirkan pada saat itu, mungkin juga zaman dulu belum berkembang teknologi seperti saat ini.

Ada suatu kisah yang diambil dari kisah nyata tentang perdebatan antara seorang ayah dan anaknya. Sang ayah memiliki gelar master di bidang manajemen dan berpengalaman di sebuah perusahaan besar hampir 40 tahun, sedangkan sang anak hanyalah seorang sarjana yang pernah mendirikan usaha sendiri. Mereka berbeda pendapat dalam konsep mengelola perusahaan kecil. Siapakah yang menang dalam perdebatan itu? Jawabannya adalah dia yang merasa paling benar. Karena kesombonganlah yang menghalangi  akal sehat dan hati nurani manusia.

Semua hal terjadi berawal dari hal kecil, maka mulailah dari diri sendiri. Dan jika sudah memiliki anak, didiklah anak sebaik mungkin, berikan contoh terbaik untuknya. Demi masa depan generasi muda Indonesia yang lebih baik. ʾĀmīn.

Advertisements