monique-Copy

Monique van der Vorst  lahir dari  keluarga penggemar olahraga. Bahkan ibunya, Elysse, adalah atlet renang Belanda dan salah satu kakaknya, Joost, atlet hoki. Ia sendiri sudah menggeluti olahraga tenis dan hoki pada usia 13 tahun.

Suatu kali ayahnya memberinya hadiah sepeda. Ia amat senang dan sering mengendarainya sebagai pengganti lari. Namun kakinya sering bergetar sendiri, bahkan mata kakinya sering terasa sakit. Saat berjalan sering tiba-tiba terpincang-pincang.

Kondisi ini membuat orangtuanya kemudian membawanya ke dokter. Lalu ia direkomendasikan untuk menjalani operasi tendon. Usai operasi, bukannya membaik malah semakin parah dan tidak bisa berdiri. Dua tahun kemudian, Monique harus menarik kaki kirinya untuk berjalan. Dokter akhirnya mendiagnosis kalau ia terkena muscular dystrophy di kaki kirinya, sehingga kakinya harus diamputasi.

Hal ini mengagetkan Monique dan keluarganya. Apa hanya karena itu harus dilakukan amputasi? Mereka tidak segera merespon saran amputasi itu. Mereka sepakat untuk memasukannya ke panti rehabilitasi dengan penanganan intensif bidang fisioterapi untuk melatih kakinya.

Menurut dokter, ada kelebihan cairan yang menyebabkan terjadinya pembengkakan di kaki kirinya. Hal inilah yang menyebabkan dokter sebelumnya merekomendasikan untuk menjalani amputasi agar tidak merembet ke anggota tubuh lain. Namun melalui latihan fisik yang dijalaninya selama delapan bulan di rehabilitasi, penumpukan cairan itu perlahan hilang hingga tidak diperlukan lagi untuk menjalani amputasi. Akan tetapi karena selama ini tubuhnya hanya bertumpu pada kaki kanan, ia mengalami gangguan lain di lutut kanannya. Dan karena kaki kirinya lumpuh, tak ada cara lain selain harus menggunakan penopang (crutch).

Agar tak berdampak lebih buruk, dokter menyarankan Monique untuk menggunakan kursi roda. “Saya masih berusia 15 tahun ketika dokter menyarankan saya menggunakan kursi roda. Kaki kiri saya lumpuh dan kaki kanan saya tidak mampu lagi menopang tubuh saya,” tuturnya dengan sedih.

Di panti rehabilitasi, ia memiliki sejumlah teman akrab. Salah satunya adalah atlet Paralimpik  cabang sepeda tangan (handcycling). Dan Monique pun diperkenalkan pada olahraga ini. Dan setelah itu ia tertarik menekuninya secara serius.

Dia hanya berlatih sekadarnya, pada musim semi 2000, Monique unutuk pertama kalinya berpartisipasi dalam lomba handcycling. Lebih hebatnya, ia menjadi juara  di partisipasi perdananya itu. Tahun 2001, ia kemudian mewakili negaranya ke kejuaraan Eropa dan menjadi juara cabang olahraga ini.

Tahun 2002, ia memperbaiki cara duduknya di kursi roda agar menghasilkan tenaga yang lebih kuat dan laju sepeda yang lebih cepat. Tahun 2004, ia kembali mengubah cara duduknya. Kali ini dengan cara berlutut di tempat duduknya. Meski aneh, cara tersebut ternyata membuatnya lebih cepat melaju. Tahun 2005, selain mempertahankan juara Eropa dan menjadi juara dunia, ia juga membuat rekor dunia baru di cabang marathon dengan catatan waktu 15 menit dan 24 detik.

Sampai pada tahun 2009, sejumlah kejuaaran sudah diikutinya. Di Paralimpik beijing 2008 ia meraih medali perak untuk cabang time trial dan road race. Tak puas dengan itu, hampir semua cabang sepeda tangan diikutinya di beberapa kejuaraan baik di 100 meter, 200 meter, 400 meter, 1000 meter, marathon. Bahkan ia juga mengikuti Hawaii Iron Man yang mempertandingkan olahraga renang sepanjang 3,8 km, bersepeda tangan sepanjang 180 km, dan diakhiri dengan marathon di atas kusi roda sepanjang 42 km. Hanya delapan atlet difabel yang dibolehkan ikut. Dan hanya dia yang bisa menyelesaikan lomba di bawah limit, dialah satu-satunya atlet difabel yang pernah melakukannya.

Dengan prestasi yang luar biasa itu, Monique pun menjadi atlet difabel pujaan publik Belanda dan dunia. Ia menjadi andalan  Belanda di berbagai kejuaraan olahraga para difabel seperti Paralimpik. Termasuk rencananya kembali memperkuat Belanda di Paralimpik 2012 London.

Namun pada 13 Maret 2010 terjadi kecelakaan yang menimpa dirinya. Saat itu ia tengah mengikuti pusat pelatihan di Spanyol. Ia sedang berlatih bersama temannya di Malaga. Namun dalam satu kesempatan, ia bertabrakan dengan rekannya. Ia terjungkal  dan kaki kirinya  yang lumpuh terjepit di kusi rodanya. Saat itu ia merasakan seseuatu yang aneh, kakinya seperti tersetrum dan bergetar-getar sendiri setelah tabrakan itu. “Kaki saya tak berhenti bergerak. Bahkan ketika saya tiba di rumah sakit untuk untuk melakukan relaksasi otot, kaki saya masih bergetar-getar,” ujarnya.

Selama 13 tahun sebelumnya, ia tidak pernah merasakan apa-apa di kaki kirinya. Sekarang tiba-tiba saja kakinya bergerak-gerak sendiri dan denyutannya panas dan semakin lama semakin terasa. Ia mencoba mengangkat kaki kanannya yang selama ini lemah, ternyata ia bisa melakukannya. Ia juga mencoba melakukan hal yang sama pada kaki kirinya. Pada awalnya hanya bisa bergerak sedikit hingga kemudian ia bisa mengangkatnya juga. Seperti mimpi dan bertanya-tanya pada dirinya, apa benar yang dialaminya ini atau sekadar mimpi.

Lama ia mendiamkannya. “Saya takut itu hanyalah harapan palsu,” katanya. Namun pada akhirnya ia memberitakan apa yang dialaminya kepada kedua orangtuanya. Mereka kaget, kemudian segera setelah itu Monique dikirim kembali ke panti rehabilitasi.

Kali ini ia menjalani terapi yang berbeda. Ia mulai diajarkan untuk mengangkat kaki, lalu belajar berdiri menggunakan kaki sendiri, terus belajar melangkah. Meski sempat tersungkur, perkembangan itu menggembirakan.

Pada ulang tahunnya yang ke-26 pada 20 November 2010, ia merasakan perasaan yang sangat aneh. Di satu sisi, ia menunjukan pada seluruh kerabatnya bahwa kali ini ia bisa berjalan sendiri, di sisi lain, ia merasa sedih karena atlet berbakat yang telah meraih penghargaan sebagai “Disabled Athlete of the Year 2009” itu ternyata sekarang menjadi orang normal.

Sungguh ini keajaiban yang tidak disangkanya. Bahkan dokter pun masih mempelajari apa yang sebenarnya terjadi pada Monique sehingga ia sekarang menjadi manusia normal.

Advertisements