bonus

Pas mau buat catatan awal tahun 2017 jadi inget beberapa tahun lalu di beberapa seminar yang dilakukan beberapa Universitas di Jogja membahas tentang “bonus demografi”. Apa itu bonus demografi? Singkatnya, bonus demografi adalah suatu peristiwa dimana jumlah masyarakat berusia produktif (15-64 tahun) lebih banyak dibandingkan jumlah masyarakat berusia non-produktif. Sehingga banyak yang memprediksikan bahwa Indonesia ketika mengalami bonus demografi (sekitar tahun 2020-2040) akan memiliki kekuatan ekonomi ke-7 terbesar di dunia (bahkan ada juga prekdiksi di urutan ke-3).

Sedikit melihat ke belakang, Jepang yang negaranya pada tahun 1945 dibombardir oleh Amerika Serikat berhasil bangkit dan melesat karena pada tahun 1950 mengalami bonus demografi.

Pertanyaannya apakah bonus demografi selalu menjadi keuntungan? Udah pasti nggak. Karena pada saat jumlah masyarakat usia produktif sangat tinggi tapi kualitas pendidikan masih rendah juga infrastruktur masih kurang maka akan terjadi drama pengangguran besar-besaran. Salah satu skenario paling buruk ialah tingginya tingkat kriminalitas, hingga mungkin perlu Batman untuk menguranginya (becanda hehehe). Itulah sebabnya pemerintah ’gila-gilaan’ membangun pemerataan infrastruktur di seluruh Indonesia. Coba bayangin, apa muat itu Jakarta dipenuhin lonjakan penduduk usia produktif yang bareng-bareng menguji nasib di sana?

Oke lah infrastruktur itu urusan pemerintah, kita cuma bisa dukung, tapi apa kita hanya menyerahkan penuh masalah pendidikan ke tangan pemerintah aja?

Sebenernya agak pesimis juga sih kalo liat tingkah laku generasi muda Indonesia saat ini, abis kebanyakan cuma bisa ikut-ikutan, kayak nggak punya prinsip gitu (cieee apa coba prinsip? hehe). Profesor Rhenald Kasali di dalam bukunya membagi jenis karakter manusia menjadi 4, yaitu: good driver, bad driver, good passenger dan bad passenger. Dimana driver identik dengan seorang pemimpin dan passenger setara dengan pengikut. Seorang pemimpin yang baik akan menghasilkan pengikut yang baik, begitu pula sebaliknya dan seorang pengikut yang buruk akan berpotensi besar menjadi pemimpin yang buruk, berlaku sebaliknya.

Generasi muda Indonesia juga belom sepenuhnya peduli akan istilah “memanusiakan manusia”. Mungkin secara teori ngerti, namun prakteknya masih belom keliatan secara signifikan. Masih banyak yang lebih menghargai materi pribadi daripada kepentingan bersama. Contoh kecilnya, saat menikah banyak orang lebih mikirin biaya pernikahan yang cuma berlangsung sebentar dibanding manusia yang akan lahir dari pernikahan itu (anak) yang tentunya membutuhkan proses panjang dan menentukan nasib bertahannya pernikahan itu sendiri. Mungkin karena gua sering denger cerita anak jalanan yang kurang beruntung (bukan cuma masalah ekonomi), juga ketidakakuran (bisa sampe kekerasan) dalem rumah, jadi agak lebay bayangan gua.

Bisa jadi gua banyak salahnya sih, soalnya data di akhir tahun 2016 itu banyak yang positif kok. Nilai mata uang Rupiah sepanjang tahun 2016 menguat 2,34% terhadap Dollar Amerika, tertinggi kedua di Asia setelah mata uang Yen Jepang (2,89%). Terus bursa efek Indonesia juga bagus, sepanjang tahun 2016 menguat 15,32%, di Asia cuma kalah dari Thailand yang menguat 19,79%. Hal baiknya adalah kalo diliat dari 2 indikator itu berarti masih banyak orang-orang yang optimis sama mata uang dan bursa saham dalem negeri. Jadi sebenernya kita harus tetep optimis di masa depan dimana kita tahun 2020 akan memasuki AFTA (ASEAN Free Trade Area). Satu hal lagi yang dibutukan seluruh lapisan masyarakat Indonesia selain optimis adalah mau bergerak, bukan cuma nungguin orang lain bertindak, apalagi cuma teriak-teriak menyalahkan berbagai pihak.

Jadi balik lagi, apakah bonus demografi sama dengan generasi emasnya suatu bangsa?

Jawabannya ditentukan oleh suatu bangsa itu sendiri.

Advertisements