CIMG1455

Kali ini saya akan membahas buku yang berjudul Self Driving yang saya yakin sangat bermanfaat ketika kita melihat pola tingkah laku masyarakat negeri ini yang kebanyakan hanya ikut-ikutan sehingga kita bisa mengubah pola tingkah laku negatif tersebut. Buku ini saya dapatkan dari meminjam teman yang sebelumnya saya rekomendasikan untuk membeli buku ini, maka terbentuklah win-win solution diantara kami. Hasil akhirnya ialah sama-sama mendapatkan ilmu yang bermanfaat. Tapi tenang, buku di tangan saya ini adalah buku asli, bukan bajakan.

Mari kita mulai membuka halaman buku ini. Begitu banyak di tengah-tengah masyarakat kita yang menilai kecerdasan seseorang dari hasil ujian tertulis, buku tes, dan paper. Kampus melibatkan diri dengan melabelkan mereka gelar, ijazah, dan nama universitas yang terkesan hebat. Padahal yang membawa kita menjadi pribadi yang bermanfaat bukanlah segala jenis label tersebut, melainkan diri kita sendiri. Kendaraan yang akan mengantarkan seseorang sampai ke tujuan adalah kendaraan yang dikemudikan oleh seorang pengemudi yang baik. Tentunya setiap orang memiliki impian yang berbeda-beda, jadi pengemudi terbaik menuju impian-impian kita adalah diri sendiri.

Apa bedanya seorang pengemudi (driver) dan seorang penumpang (passenger)? Seorang driver mampu mengemudikan kendaraan hingga titik tertentu, harus mengetahui jalan, dilarang mengantuk apalagi tertidur, mampu merawat kendaraan, dan sebuah piihan yang berisiko. Sedangkan seorang passenger hanya menumpang, tidak harus tahu memahami jalan, boleh mengantuk, boleh tidur, tidak perlu merawat kendaraan, dan sebuah piihan yang aman. Bagaimana caranya kita bisa menjadi seseorang yang bermental driver? Tentunya kita harus berani keluar dari zona nyaman kita dan mulai berpikir.

“Only 2% of the people think; 3% of the people think they think; and 95% of the people would rather die then think.”

~ George Bernard Shaw

Untuk bisa mengendalikan negara, kita harus bisa mengendalikan orang-orang terlebih dahulu. Untuk bisa mengendalikan orang-orang, kita harus bisa mengendalikan diri sendiri terlebih dahulu. Drive yourself, berarti diri kita sendirilah yang menjadi driver. Pertama-tama tentukan arah masa depan hidup kita. Untuk itu kita harus bermain sebagai pemenang, berani mengambil risiko, disiplin, bertanggungjawab, dan memiliki mindset yang terus tumbuh. Drive your people, berarti kita mampu berinteraksi dan tumbuh bersama kekuatan orang lain. Untuk mencapainya, kita harus memiliki goal setting, mampu mengambil keputusan, memimpin dengan hati, mau memberi, dan menumbuhkan myelin (muscle memory). Drive your nation, berarti kita mampu berkontribusi memajukan bangsa dan negara. Untuk sampai ke sana, kita harus mampu melenyapkan korupsi bahkan sampai hal yang kecil dan sanggup mendorong tumbuhnya pola pikir bangsa hingga memiliki sikap mental driver.

Terdapat 2 jenis driver, yaitu good driver dan bad driver. Bila diperumpakan, bad driver adalah seorang sopir yang ugal-ugalan dan atau sopir tembak yang tak terlatih. Orang-orang yang kita sebut sebagai bad drivers akan lebih banyak mengambil energi kita, mengajak kita untuk melakukan keributan-keributan dibanding langkah-langkah terhormat. Akibatnya reputasi kita perlahan-lahan tergerus, semakin terpuruk, semakin tidak dipercaya. Bad driver akan membuat good passengers belajar cara mengemudi kehidupan yang buruk. Para bad drivers bukanlah orang yang harus dijadikan teman. Lain halnya dengan good drivers. Mereka bisa disebut dengan banyak nama, seperti intrapreneur, profesional, admired CEO, pengusaha terpandang, value-added manager, dan sebagainya. Good driver adalah seorang inisiator, tokoh perubahan, dan mampu menjadi role model bagi banyak orang.

Kemudian salah satu cara mengubah seorang good passenger menjadi good driver adalah dengan memelajari  keterampilan assertiveness. Meski menurut kamus assertiveness diterjemahkan sebagai ketegasan, sebenarnya ia memiliki banyak arti. Assertiveness yang dibahas di buku ini lebih diartikan sebagai seni bertutur kata yang menampilkan gerak isyarat yang menunjukan ketegasan, namun tetap bersahabat tanpa mengabaikan orang lain. Sikap assertive berbeda dengan sikap agresif. Di Amerika Serikat, Kanada, dan negara-negara Skandinavia, assertiveness diajarkan di sekolah-sekolah sebagai wadah pembentuk karakter dan keperibadian. Dengan bekal assertiveness, bawahan tidak akan membiarkan  atasannya korupsi.

Tiba lah kita di bab yang diberi judul The Power of Simplicity. Sebelum kurikulum 2013 dijalankan, Indonesia adalah negara dengan jumlah mata ajar terbanyak di dunia yang diberikan untuk SD-SMA. Rata-rata pelajar SMA mendapat 16-18 mata ajar, sementara di beberapa negara lain hanya 5-7 mata ajar dengan jumlah jam pelajaran yang sama. Ketika anak-anak muda Indonesia harus menyelesaikan 144-160 SKS untuk menyelesaikan pendidikan S1-nya, di luar negeri cukup mengambil 124 SKS. Itu pun tanpa keharusan menulis skripsi. Dengan SKS yang lebih sedikit, mereka justru berpotensi menjadi manusia-manusia yang tangkas dan mempunyai ruang gerak yang besar untuk beraktivitas sosial. Tidak heran jika di Inggris sekarang banyak tawaran program S2 yang bisa ditempuh hanya dalam 55 minggu. Segala bentuk kekakuan yang begitu luas dan masif mencerminkan kekusutan berpikir dari para pengambil keputusan.

Banyak contoh-contoh kasus yang membuat saya sangat tertarik di bab Critical Thinking. Di berbagai kampus di belahan bumi bagian Barat, semua mahasiswa di jurusan apapun selama dua tahun pertama wajib mengambil mata kuliah liberal arts yang di dalamnya terdiri atas sejarah, matematika, science, rhetoric, kesenian, astronomi, ekonomi politik, sosiologi, dan bahasa. Tujuannya bukan untuk menghafal, namun menantang cara berpikir, menguji kebenaran secara ilmiah untuk membebaskan manusia dari mitos dan tradisi yang sempit. Bangsa yang tidak terbiasa berpikir kritis akan mudah terbawa arus, mudah percaya pada tahayul, terseret emosi, terlibat dalam penyebaran rumor yang belum tentu benar. Sebagai ilmuan generasi pertama, Socrates dianggap sebagai manusia pertama yang mengajarkan cara berpikir kritis. Setiap kali mendengar seseorang menyampaikan suatu berita, ia selalu menyampaikan tiga pertanyaan. “Apakah berita yang Anda ceritakan itu adalah sesuatu yang benar-benar Anda yakini kebenarannya?”, “Apakah itu tentang orang yang Anda cukup kenal dan tahu persis kehidupannya?”, “Apakah itu berita positif atau negatif?”.

Istilah executive functioning kini mulai dipakai para pendidik dan para ahli manajemen karena modal dasar bagi kaum muda untuk menjadi seorang good driver. Executive functioning diaktifkan melalui tiga elemen psikologis yang bisa dilatih, yaitu inhibitory control (tahu dan tidak melakukan apa yang tidak boleh diucapkan/dilakukan) dan self regulation (meregulasikan diri), working memory (kemampuan menata informasi dengan tanggap dalam memori), dan cognitive flexibility (kemampuan beradaptasi).

Inhibitory control intinya adalah pengendalian diri. Kaum muda butuh dilatih mengendalikan ego, berpikir dahulu sebelum bertindak, berpikir tentang orang lain, dan membentuk rasa hormat sehingga terbiasa mengendalikan diri. Seorang good driver harus mampu mematuhi peraturan yang berlaku saat mengemudikan dirinya. Working memory adalah sebuah keterampilan yang dilatih sedari dini untuk menyimpan beberapa informasi sekaligus, sementara informasi yang lain terus berdatangan dan kita harus memilih, mendahulukan satu diantaranya, namun tidak melupakan yang sudah pernah datang sebelumnya. Cognitive flexibility bisa diartikan sebagai kemampuan mental seseorang untuk mampu menghadapi perubahan dalam kondisi yang tidak diharapkan. Jadi seorang driver tidak hanya mampu berpikir kreatif namun juga harus bisa menyesuaikan diri dengan berbagai lingkungan yang berbeda.

Banyak cerita yang menarik tentang tokoh-tokoh penting yang akan mengubah cara pandang kita di buku ini, seperti Theodore Roosevelt, Soekarno, Ahmad Dahlan, Gus Dur, Sehat Sutardja, dan juga beberapa kisah unik yang terjadi disekeliling kita yang disebabkan masyarakat Indonesia masih kebingungan dalam membedakan fakta dan fiksi.

Sudahkah kita menentukan pilihan menjadi driver atau passenger?

Advertisements