CIMG1412

Buku ini saya pinjam dari seorang teman setelah mengikuti workshop di tempat yang begitu indah, di Pantai Watu Kodok. Di sana saya bertemu langsung dengan penulis buku ini yang sekaligus menjadi pemberi materi dalam workshop. Dari caranya bercerita, sepertinya saya harus membaca bukunya. Buku ini mengisahkan pengalaman pribadi sang penulis. Bercerita tentang perjalanan panjang dari Perth menuju Melbourne.

Cerita ini berawal dari pertemuan 4 orang pengelana, seorang gadis dari Indonesia, seorang gadis dari Jerman, dan 2 pemuda dari Prancis. Mereka berangkat menggunakan sebuah Station Wagon, mobil klasik untuk sebuah perjalanan panjang. Pada saat itu, Australia sedang berada pada puncak musim panas di bulan Januari-Februari yang suhunya dapat mencapai 40 derajat celsius. Dan kebetulan mobil yang akan membawa mereka melakukan perjalanan mengalami kerusakan pada AC-nya.

Sebelum pertemuan mereka berempat, seorang gadis asal Indonesia yang merupakan solo traveler  mencari tumpangan dengan tujuan ke Melbourne melalui website Gumtree. Di website tersebut terdaftar puluhan orang menawarkan tumpangan atau mencari rekan perjalanan. Setiap pemilik mobil mencantumkan jenis kendaraan, kota tujuan, jumlah penumpang yang bisa ditampung, perkiraan tanggal keberangkatan, dan lama perjalanan. Sang gadis pun akhirnya memberanikan diri menulis bahwa ia adalah seorang solo traveler perempuan yang membutuhkan tumpangan menuju Melbourne untuk waktu keberangkatan sekitar 2 minggu lagi dan mencantumkan nomor telepon serta email.

Aturan-aturan dasar ditetapkan tanpa membatasi kebebasan setiap orang. Semua pengeluaran bersama yang didominasi oleh makanan dan bahan bakar dibagi rata. Mereka sepakat untuk tiba di Melbourne paling lambat pada akhir Februari dengan menyusuri garis pantai selatan. Hal tersebut berarti mereka memiliki waktu satu bulan penuh untuk menikmati keindahan alam. Tingkat kriminalitas wilayah Australia bagian selatan cukup rendah, tapi yang perlu dikhawatirkan bukanlah manusia melainkan binatang-binatang liar yang tinggal di alam bebas Australia.

Ada pun buku yang mereka andalkan dalam melakukan perjalanan, yaitu Camp 5. Buku itu berisi peta dan paduan perjalanan yang terdapat simbol-simbol untuk menujukan keterangan-keterangan penting bagi para traveler sebelum bermalam di taman konservasi. Contohnya simbol $ yang berarti tempat tersebut tidak gratis. Semakin banyak jumlah simbol $ yang berbaris maka tempat tersebut semakin mahal.

Langit masih berwarna abu-abu dan embun masih menempel pada rerumputan. Tiba-tiba terlihat dari kejauhan sepasang mata  diam menatap tidak bergerak. Makhluk itu berdiri dengan dua kaki dengan ekor besar yang menjuntai ke belakang. Ya, itu adalah kanguru. Berdasarkan cerita yang beredar, nama kanguru didapat karena adanya miskomunikasi antara bangsa Inggris dan suku Aborigin. Saat melihat makhluk aneh yang berjalan dengan cara melompat, orang Inggris bertanya kepada penduduk lokal, namun karena berbeda bahasa, ia kebingungan lalu berkata, “kangaroo?”, yang artinya aku tidak mengerti. Orang Inggris tersebut salah mengira, lalu ia bercerita kepada teman-temannya bahwa makhluk itu bernama kangaroo.

Setelah melanjutkan perjalanan hingga sore hari, akhirnya mereka tiba di Tuart National Park. Mereka menemukan area piknik di mulut taman nasional yang tak berpagar dan tak terjaga. Tetapi mereka tidak sendiri, di sana terparkir sebuar camper van. Kemudian mereka bertemu dengan seorang pria dan seorang wanita berkebangsaan Jerman. Mereka berdua pun bertemu berkat bantuan situs Gumtree.

Dua backpacker asal Jerman itu memutuskan untuk bergabung bersama hingga Albany. Mereka memacu kendaraan menuju Busselton, sebuah kota tepi pantai yang memiliki dermaga kayu sepanjang 2 km. Pasir putih, laut biru, dan dermaga kayu berwarna abu-abu, bagaikan sebuah gambar pemandangan di kartu pos. Busselton merupakan kota pertama di wilayah barat yang diberi nama Geographe Bay. Area ini menawarkan pemandangan pantai barat yang belum dijinakan, pohon eukaliptus langka, ombak yang memecah karang, dan tebing batu raksasa.

Setelah terus memacu kendaraan ke arah barat, tibalah mereka di tepi sebuah mercusuar putih bernama Cape Naturaliste Lighthouse. Nama Naturaliste dan Geographe diambil dari nama dua buah kapal Prancis di bawah pimpinan Nicolas Tomas Baudin yang dikirim oleh Napoleon Bonaparte pada tahun 1800 dalam rangka ekspedisi ilmu pengetahuan.

Sebelum makan siang, mereka mengunjungi sebuah tebing yang bernama Sugarloaf Rocks. Tebing tersebut merupakan dua buah bukit yang tersusun dari ribuan batu bersudut tajam berwarna cokelat kemerahan. Satu bukit terletak di ujung teluk, sedangkan satunya lagi berdiri terpisah di tengah laut.

Ada 2 kategori manusia di dunia ini: mereka yang menganggap backpacker keren dan mereka yang berganggapan sebaliknya. Polisi hutan Australia sepertinya masuk dalam kategori kedua. Wajah kucel, pakaian lusuh, dan mobil tua yang dipenuhi barang-barang penunjang kehidupan. Di mata para polisi hutan, mereka adalah tipikal orang-orang yang akan melanggar peraturan.

Australia hanya dihuni sekitar 20 juta jiwa. Masih lebih sedikit dibanding populasi provinsi DKI Jakarta. Rata-rata kepadatan penduduk Australia hanya 2 hingga 3 jiwa saja pada setiap 1 kilometer perseginya. Di tengah negara ini terhampar 3 buah gurun luas dengan Uluru, batu megalith berwarna merah yang dikeramatkan oleh suku Aborigin yang terletak di tengahnya. Di antara Adelaide dan Sydney didominasi oleh perkebunan, gunung salju, serta rangkaian Blue Mountain. Di area timur laut Australia terdapat Great Barrier Reef dengan pasir putih dan keberagaman biota laut dan hutan tropis mewarnai wilayah daratnya.

Bagaimana dengan area barat daya tempat mereka berada? Di sana tidak ada tanah merah dan gunung salju yang membentang. Namun di Margaret River terdapat ribuan pohon eukaliptus raksasa yang tumbuh dari zaman purba.  Ada 4 spesies pohon eukaliptus yang hidup secara spesifik di beberapa titik pada Australia bagian barat daya. Ada pohon tuart yang hanya tumbuh di antara Burnbury dan Busselton. Kulit kayunya terang dengan daun hijau berbentuk spiral. Ada pohon jarrah dengan kulit batang yang pecah-pecah, tumbuh mendominasi di sekitar Margaret River. Kemudian pohon-pohon yang mereka lewati di Vasse Highway adalah kumpulan pohon karri. Mereka tersebar di antara daerah Manjimup dan Denmark. Tinggi pohon tersebut mencapai 90 meter sehingga menjadikannya salah satu pohon tertinggi di dunia.

Ada beberapa pohon karri tua yang bisa dipanjat di sekitar Pemberton. Gloucester Tree setinggi 61 meter, Dave Evans Bicentennial Tree setinggi 68 meter, dan Diamond Tree setinggi 58 meter. Gloucester Tree berusia lebih dari 350 tahun. Sebuah pos pengamatan kebakaran hutan dibangun di puncaknya pada tahun 1930. Ada 153 batang besi terpancang melingkari pohon tersebut hingga mencapai puncak. Karena pohon tersebut bukanlah tempat tujuan wisata, maka tidak ada bentuk satu pengamanan pun yang terpasang di sana. Pemerintah setempat memberi peringatan akan risiko dan aturan menaiki pohon itu dilengkapi dengan tanda seru besar terpasang di samping pohon.

Tibalah kita di bab kedelapan buku ini, yang juga berarti jika dihitung dari keseluruhan buku, halaman yang kita buka ini belum mencapai setengahnya. Jutaan batu raksasa mengepung tinggi menjulang dan kokoh tanpa tulang. Taman Nasional Torndirrup terletak 20 kilometer di selatan Albany. Kata di dalam buku panduan yang bertuliskan Antartika mengundang rasa penasaran yang besar bagi mereka. Ternyata dahulu kala, Antartika pernah mengalami iklim tropis. Pergeseran lempeng tektonik dan retakan yang terjadi 45 juta tahun yang lalu menyebabkan benua Australia dan Antartika berpisah. Setelah mereka puas mengagumi Natural Bridge, mereka berkendara menuju blowhole. Blowhole adalah lubang sempit di antara batu-batu granit yang menembus masuk hingga ke dalam permukaan laut.

Kota Albany adalah kota terakhir kebersamaan mereka berenam karena kedua backpacker asal Jerman yang mereka temui di tengah perjalanan akan menuju ke Perth. Jarak antara Perth-Albany adalah 650 km yang mereka tempuh dalam waktu 8 hari. Waktu yang sangat lama mengingat mereka harus menempuh jarak sekitar 4500 km lagi untuk mencapai Melbourne. Jarak tersebut harus mereka capai hingga awal bulan Maret, berarti mereka hanya memiliki waktu 3 minggu lagi.

Setelah menempuh jarak 450 km, akhirnya mereka tiba di Esperance. Di sana mereka bertemu Great Ocean Drive yang merupakan jalan melingkar sepanjang 38 km dengan pemandangan tepi pantai terbaik di Australia dan beberapa tempat menarik di sekitar Esperance. Setelah mereka puas mengunjungi Rotary Lookout, Twilight Beach, Old Wind Farm , dan berkemah 1 hari di kota kecil bernama Condingup, mereka segera memacu kendaraan menuju Taman Nasional Cape Le Grand. Tentu saja tempat itu tidak gratis, mereka harus mengeluarkan uang AU$43 yang sudah termasuk biaya masuk kendaraan. Mereka sangat penasaran dengan keindahan alam Cape Le Grand dan memutuskan untuk melihat lookout keseluruhan tempat tersebut dengan menaiki batu setinggi hampir 300 m yang memiliki total jarak sejauh 3,5 km pulang pergi. Ya, sudah pasti untuk sampai ke sana tidaklah mudah.

Bagaimana rasanya melewati jalan lurus yang sangat panjang dengan pemandangan yang tidak berubah? Pasti membosankan bukan? Seperti itulah yang mereka alami. Mereka mau tidak mau harus melewati jalan lurus terpanjang di Australia sepanjang 146,6 km untuk mencapai tujuan berikutnya. Ditambah mereka harus duduk di dalam mobil tanpa AC dengan suhu udara 42 derajat cesius, tentunya akan meningkatkan kegelisahan mereka selama perjalanan berlangsung. Tapi mereka punya cara tersendiri untuk mengatasinya dengan menikmati hal-hal kecil yang mereka punya dan sedikit kegilaan seperti yang dituliskan pada buku ini.

Ternyata ada peraturan unik di Australia yang tidak mereka ketahui. Perarturan itu melarang setiap mobil yang melintasi perbatasan Western Australia dan South Australia untuk membawa masuk buah dan sayuran segar di dalamnya. Hal ini bertujuan untuk menghindari masuknya bakteri dan virus dari negara bagian lain. Di dekat Eucla ada sebuah area pengecekan dan karantina untuk memeriksa setiap mobil yang melintas. Di bagian ini, mulai diceritakan konflik di antara mereka. Hal ini diawali karena mereka baru saja membeli sekantung jagung, wortel, tomat, timun, selada, dan apel untuk persediaan selama di Nullarbor. Dan suatu hal yang sulit untuk menghabiskan semuanya dalam beberapa jam. Setibanya di Eucla, tanpa banyak kata, mereka memutuskan untuk bermalam dengan biaya AU$20 per malam dan AU$2 setiap 15 menit untuk mandi. Menjelang malam, pesta barbecue yang cukup aneh disiapkan. Tidak ada daging di atas plat panggangan, hanya ada bawang bombay, jagung, tomat, wortel, dan jamur.

Hanya 5 menit dari Eucla, tibalah mereka di perbatasan yang disebut Village Border. Suasana tampak lenggang, tidak ada siapa pun di tempat yang seharusnya menjadi tempat pemeriksaan barang dan karantina. Mereka pergi berjalan ke minimarket untuk bertanya mengenai hal ini. Penjaga minimarket mengatakan bahwa titik pemeriksaan dan karantina di sana sedang tidak beroperasi, titik pemeriksaan dan karantina berikutnya ada di Ceduna, sekitar 500 km lagi. Upaya mereka membayar penginapan dan menghabiskan buah dan sayuran yang ada terasa sia-sia. Suhu udara saat itu 43 derajat celsius.

Malam datang memberikan ketenangan dan membangkitkan kenangan. Suhu udara pun turun drastis menjadi 19 derajat celsius. Rasi bintang pari mulai menampakan diri di luasnya langit yang terbentang. Orang prancis menyebutnya Croix du Sud, di Australia dikenal dengan nama Southern Cross. Suku aborigin di sana menyebutnya dengan nama Mirrabooka. Menurut legenda, Mirrabooka adalah nama salah satu ketua suku yang paling bijaksana dan selalu memerhatikan kesejahteraan rakyatnya. Karena pengaruh dan karismanya itu, Dewa Langit memberi cahaya pada tangan dan kakinya lalu menempatkannya di angkasa, sehingga ia mampu membantu mengawasi Bumi. Itulah sebabnya Mirrabooka selalu menunjukan arah selatan, ke tempat rumahnya berada.

Sesaat sebelum tiba di Celduna, kendaraan mereka dihentikan dan diperiksa oleh petugas karantina. Semua orang diminta turun dan bagasi belakang dibuka. Setelah melihat penuhnya barang-barang di sana akhirnya para petugas memutuskan hanya memeriksa cool box dan dua buah chiller bag milik mereka. Ya, perkiraan bahwa tidak semua tempat akan diperiksa ternyata memang begitulah kenyataannya, tapi apa boleh buat, mereka sudah menghabiskan semua sayur dan buah di malam pesta barbecue di Eucla. Kemudian sesampainya mereka di supermarket di Ceduna, layaknya balas dendam, mereka memutuskan membeli 3 buah daging kanguru merah, juga banyak sayur dan buah.

Perdebatan demi perdebatan mengiringi perjalanan mereka berempat. Mulai dari makan jagung atau daging hingga harus ke Kangaroo Island atau tidak. Untuk pergi ke Kangaroo Island, mereka harus bergegas menuju Cape Jervis yang berjarak 40 km, lalu menyebrangi laut dengan menggunakan kapal feri. Harga tiket masuknya AU$68 per orang, harga tiket kapal feri pulang pergi AU$86 per orang, dan biaya untuk membawa sebuah mobil sebesar AU$84. Tempat yang luar biasa dengan harga yang juga luar biasa. Di tengah kebimbangan, untuk sementara mereka memutuskan mengunjungi Deep Creek Conservation Park yang berjarak 11 km sebelum Cape Jervis. Namun perdebatan kali ini sangat sulit untuk mereka hindari, sudah banyak emosi selama perjalanan yang mereka tampung dan siap untuk meletus. Akankah kebersamaan mereka berakhir di titik ini?

Advertisements