CIMG1400

Awalnya saya menemukan sebuah tweet yang mengakibatkan saya terpacu pergi ke toko buku untuk membeli sebuah buku. Ya, buku itu berjudul Sejenak Hening. Sebenarnya saya lupa tulisan dalam tweet itu apa, tapi itu tidak penting, yang penting saya mau bercerita tentang pengalaman saya membaca buku Sejenak Hening ini.

Seingat saya, pada saat itu pikiran saya sedang cukup padat. Demi lebih menenangkan pikiran saya, mulailah saya membuka lembaran demi  lembaran buku ini sampai tibalah saya di sebuah cerita yang berjudul Menutup Jendela. Di sini dibahas bahwa kita sering lupa menutup jendela indera kita sehingga informasi yang kita terima tidak hanya yang baik saja namun yang buruk pun kita masukan semua. Informasi yang kita terima tidak hanya secara langsung, tetapi juga secara tidak langsung melalui televisi, komputer, dan telepon yang selalu setia menemani kita. Kedamaian dalam diri pun mulai terusik oleh hal-hal yang berasal dari luar diri. Apakah salah jika kita selalu membuka jendela indera kita? Tentu tidak demikian. Namun ada kalanya kita harus cermat memilih mana yang harus masuk dan mana yang harus dibiarkan keluar.

Kembali saya membaca, lalu bertemulah saya dengan cerita Menunda Bahagia. Terkadang kita terlalu berfantasi, terlalu mendramatisir kehidupan kita untuk mencapai kebahagiaan. Padahal kebahagiaan datang bukan di saat kita memeroleh sesuatu yang belum kita miliki, namun kebahagiaan itu tiba ketika kita pada saat ini juga memanggilnya dan merasakan kehadirannya. Nikmati dan syukuri hal-hal kecil di sekitar kita, tidak perlu menunda hingga hari esok untuk merasakan bahagia.

“Procrastination is the thief of time.”

~Edward Young

Berjalan menjelajahi isi buku dan saya mulai menyadari bahwa pada hari-hari yang saya jalani saya sering menemukan orang-orang yang pelit memberikan senyuman, mungkin termasuk saya. Jika kita memerhatikan kita akan menemukan fakta dimana anak-anak jauh lebih banyak tersenyum bahkan tertawa dibandingkan orang dewasa. Padahal kita sadar akan menjadi lebih bersemangat dan senang ketika kita menjalani pekerjaan dengan banyak tersenyum ikhlas. Bagaimana caranya tersenyum? Kita bisa menggantungkan benda-benda yang mengingatkan kita untuk tersenyum, misalnya barang yang kita suka ataupun tulisan kata-kata humor. Semuanya sudah ada untuk kita. Udara, hujan, kicauan burung, dan keindahan alam bisa kita nikmati dan gratis. Saat kita memberikan sesuatu untuk seseorang, tidak akan pernah bisa memberi kebahagiaan sebesar senyum yang kita berikan untuk orang tersebut.

Membuka Hati. salah satu cerita favorit saya di buku ini. Akhir-akhir ini, terlihat banyak orang mendengar tapi belum tentu mereka benar-benar mendengar(kan). Yang namanya mendengar(kan) adalah mendengar yang dapat membantu meringankan penderitaan seseorang yang sedang bicara pada kita. Mendengar(kan) bisa disebut dengan mendengar dengan penuh kasih sayang. Jadi, tidak ada rencana terselubung. Sebaiknya mendengar(kan) diawali dengan niat penuh cinta dan kasih sayang. Dengan demikian orang yang berbicara kepada kita akan membuka hatinya. Terkadang muncul anggapan seolah-olah orang yang lebih pintar adalah orang yang lebih banyak bicara. Padahal kemampuan mendengar(kan) bisa menjadi solusi menghadapi konflik yang tidak bisa diselesaikan dengan hanya bicara panjang lebar. Pasti akan indah jadinya ketika sosial media lebih menekankan untuk mendengar(kan) saja. Jadi yang nampak lebih keren adalah mereka yang following-nya lebih banyak. Sehingga tidak ada yang minta follback karena lebih sering menyimak dan mendengarkan orang lain.

Pagi itu liar. Belum jinak. Tubuh kita belum siap. Pikiran kita masih setengah bermimpi. Oleh karena itu, kita sebaiknya memersiapkan diri supaya bisa menyapa pagi dengan baik. Tibalah saya di halaman buku yang dicetak warna hijau ini. Bagaimana kita bisa mengondisikan diri supaya sesaat setelah bangun pagi, kita bisa menikmati pagi dengan kesadaran penuh? Baiklah kalau begitu. Saat bangun pagi dan masih terbaring di kasur, luangkan waktu 1 menit saja untuk menyadari tubuh. mulai dari jari kaki, tumit, kaki, pinggul, dada, tangan, dan leher ke kepala. Menyatu dengan tubuh. selalu ada waktu untuk memikirkan apa yang terjadi. Perhatikan berapa banyak pengalaman yang ada di setiap menit yang kita lalui? Dan lihat lah pengalaman tersebut sebagai ucapan syukur dan penghargaan atas hidup. Pelankan kecepatan pagimu. Sadarilah saat kita berjalan. Sadarilah setiap kegiatan yang kita lakukan. Rasakan, dengarkan, perhatikan. Pelankan pagimu teman. Meskipun sebenarnya saya tidak merangkai tulisan ini saat pagi hari.

Banyak hal yang saya peroleh ketika membaca. Sampai-sampai baru tersadar semakin hari kita sering ditemukan oleh makhluk jahat yang dinamakan tergesa-gesa dan terburu-buru. Pernah saya dikagetkan karena mendengar suara dari suatu lokasi yang berbunyi, “Buruan! Cepetan!”, dan sebagainya. Kemampuan bersabar adalah sebuah anugerah. Kita bisa memilih menjalani hidup dengan tergesa-gesa atau menikmati hidup dengan kesabaran. Untuk memeroleh bahagia, kita tidak harus terburu-buru. Berhenti sejenak dalam kecerian sederhana setiap hari. Itulah cara terbaik untuk benar-benar hidup.

Ciptakan keheningan, pejamkan mata, resapi dan rasakan setiap nafas yang masuk dan keluar.

Begitulah cerita dari saya yang penuh kekurangan dan kesederhanaan ini. Untuk merasakan pengalaman yang lebih menenangkan dengan lebih banyak cerita, belilah dan baca buku aslinya. Terima kasih sudah mau mendengar(kan).

Advertisements