SAMSUNG CSC

Dear Jonru Ginting dan Muslim Cyber Army (CMA) atau apapun sebutannya,

Sejujurnya saya belum lama membaca beberapa postingan anda di media sosial. Hal ini dikarenakan saya tidak aktif di media sosial pada saat Pemilihan Presiden 2014 sehingga saya baru mengetahui bahwa ada orang seperti anda di dunia yang fana ini.

“Ilmu ada 3 tahapan, jika seseorang memasuki tahap pertama, dia akan sombong. Jika dia memasuki tahap kedua, ia akan rendah hati. Dan jika memasuki tahapan ketiga, ia akan merasa dirinya tidak ada apa-apanya.”
-Umar bin Khattab

Awalnya saya terkejut melihat halaman Facebook anda. Saya melihat sosok bapak-bapak sedang membaca buku dengan rak buku yang penuh sebagai background-nya, membuat saya bertanya dalam hati, sebenarnya buku apa saja yang telah anda baca? Kenapa bisa melahirkan pemikiran yang sempit? Tapi memang banyaknya koleksi buku tidak otomatis menjadikan seseorang luas pengetahuannya. ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.

Pertama. Seseorang mempunyai banyak buku tetapi tidak semua buku pernah dibaca. Kalau memang benar seperti ini maka koleksi toko buku Gramedia punya lebih banyak jumlah, jenis, dan variasinya daripada buku-buku di foto anda itu.

Kedua. Seseorang telah banyak membaca buku tapi yang buku dibaca hanya cerita fiktif belaka. Kalau benar demikian maka tempat peminjaman komik dan novel dekat kampus saya dulu punya koleksi lebih banyak. Namun di era digital dimana banyak beredar ebook bajakan melalui internet, saya rasa tempat peminjaman tersebut hampir punah.

Ketiga. Tidak semua orang yang sedikit koleksi bukunya berarti sedikit membaca buku. Contoh public figure yang saya tahu yaitu Handry Satriago dan Adjie Silarus. Mereka senang berbagi dan memberikan bukunya kepada orang lain sehingga jumlah buku di rumah tidak banyak.

“Semakin tinggi ilmu seseorang maka semakin besar rasa toleransinya.”
-Gus Dur

Kemudian ada hal yang aneh yang pernah anda bagikan, yaitu meme yang mengatakan bahwa Buni Yani ditahan setelah menjadi tersangka padahal faktanya tidak. Juga logika sesat yang mengatakan bahwa kalimat “dibohongin pakai surat Al-Maidah 51” itu lebih parah dibanding tanpa kata “pakai”. Padahal ayat itu adalah firman Allah, jika seandainya itu dikatakan bohong berarti Tuhan berbohong. Mengapa anda bisa berpikir bahwa tanpa kata “pakai” itu lebih tidak kurang ajar?

Adapun juga pengalaman saya di grup Whatsapp. Sebenarnya ini bukan ulah anda, Tapi mungkin ini bisa jadi pelajaran bagi kita bersama. Ini tentang komunisme (sayap kiri) dan liberalisme (sayap kanan). Bagaimana bisa seseorang berapi-api menyamakan komunis dan liberal? Dari manakah dasar ide tersebut? Saat saya tanyakan kepada mereka pengertian komunis, ternyata mereka tidak mengerti, pantes lambang BI dibilang gambar palu dan arit. Setelah saya lihat umurnya, oh ternyata mereka lama terpengaruh doktrin Soeharto tentang G30S/PKI. Tunggu, sebelum menuduh saya antek PKI, mohon dibaca dulu buku trilogi perkembangan Marxisme (Pemikiran Karl Marx, Dalam Bayang-Bayang Lenin, Dari Mao ke Marcuse) karya Franz Magnis-Suseno agar tidak memalukan.

Lalu dalam perihal pencatutan nama tokoh Muslim dan Ulama. Tolong diberitahukan kepada para cyber army untuk tidak membawa nama besar seseorang untuk kepentingan pribadi. Salah satu Ulama yang sering dicatut namanya adalah Buya Hamka. Setelah saya tanya buku karya Buya Hamka mana yang pernah mereka baca, ternyata mereka tidak bisa menjawab. Padahal buku yang pernah saya lihat di toko buku ada beberapa judul, seperti Lembaga Hidup, Tasawuf Modern, Falsafah Hidup, dan Lembaga Budi. Jika saya mengetahui buku yang telah mereka baca nantinya akan saya periksa, terjadi kesalahan pada bukunya atau pemahaman orang yang baca.

“Iman tanpa ilmu bagai lentera di tangan bayi namun ilmu tanpa iman bagaikan lentera di tangan pencuri.”
-Buya Hamka

Saya mohon maaf sebelumnya, saya dan mungkin banyak orang lainnya bukanlah anti-Arab atau terlalu memihak kepada Tiongkok, saya seorang pribumi yang nasionalis bung! Hanya saja saya tidak habis pikir, pada zaman dahulu bangsa Cina dan Arab pergi berdagang melalui jalur sutra dan jalur rempah ke Indonesia. Boleh dikatakan keduanya bukanlah pribumi asli Indonesia, namun kok saya melihat ada diskriminasi dalam memandang salah satunya? Kejadian ini, mengingatkan saya pada kisah Iblis yang tidak mau tunduk kepada Nabi Adam. Hal tersebut dikarenakan Iblis merasa diciptakan lebih dahulu dan terbuat dari zat yang lebih mulia yaitu api, sedangkan Nabi Adam hanya diciptakan dari tanah. Inilah tindakan rasialisme pertama yang pernah terjadi dan mengakibatkan Iblis menjadi musuh besar para keturunan Adam.

Anomali sekali tindakan para pemecah belah bangsa Indonesia saat ini. Dulu para pejuang kemerdekaan seperti Soekarno, Moh.Hatta, Sutan Syahrir, dan Tan Malaka meski berbeda pendapat, namun tujuan mereka satu, yaitu kemerdekaan Indonesia. Sedangkan sekarang dimana kita hidup lebih leluasa dan nyaman, eh malah suka bertengkar mengatasnamakan golongan tertentu. Saya mohon dengan sangat untuk tidak mengandalkan otot saja, tetapi gunakan juga akal sehat dan hati nurani kita.

Jika saya ditanya, “lebih baik memilih pemimpin muslim tapi korupsi atau non-muslim tapi bersih?”. Maka saya akan jawab bahwa kriteria pemimpin saya bukan dilihat dari hal itu. Pertanyaan tersebut hanya membuat sempit cara berpikir. Bagi saya, pemimpin ideal itu memliki sifat seperti Nabi Muhammad, pasti tidak ada, tapi setidaknya mendekati sedikit saja. Seperti yang sama-sama kita ketahui sifat-sifat Nabi Muhammad adalah shiddiq (jujur), amanah (bisa dipercaya), tabligh (menyampaikan kebenaran), fathonah (cerdas). Itulah 4 kriteria pemimpin ideal bagi saya.

“Tindakan manusia yang paling mungkin melanggar keadilan ialah tindakan menggunakan kekuasaan. Oleh karena itu, kekuasaan dalam agama kita harus dipandang sebagai amanat Allah Swt. Dan amanat itu harus kita tunaikan dengan sebaik-baiknya dan seadil-adilnya.”
-Cak Nur

Satu hal terakhir, yaitu tentang hubungan kebudayaan asing dan pengaruhnya bagi masyarakat Indonesia. Yang saya ketahui dari pengetahuan dan pengalaman saya yang tidak banyak ini diperoleh kesimpulan bahwa bekerja di perusahaan asal Amerika tidak menyebabkan orang Indonesia berubah langsung menjadi liberal, ikut bela diri asal Jepang tidak membuat kita menjadi WNJ (Warga Negara Jepang), menggunakan Facebook dan Whatsapp tidak mengubah seketika seorang Muslim menjadi Yahudi, pergi haji dan umroh tidak otomatis menjadikan seseorang fasih berbahasa Arab, mendengarkan K-Pop tidak lantas mengubah fisik menjadi seperti orang-orang Korea, membeli produk made in China tidak mengubah nasionalis menjadi komunis. Apakah benar begitu Pak Jonru dan kawan-kawan?

Advertisements