Search

Dialektika Yaqub Walker

"membumi, tak pernah lupa ibu pertiwi"

Bonus Demografi = Generasi Emas?

bonus

Pas mau buat catatan awal tahun 2017 jadi inget beberapa tahun lalu di beberapa seminar yang dilakukan beberapa Universitas di Jogja membahas tentang “bonus demografi”. Apa itu bonus demografi? Singkatnya, bonus demografi adalah suatu peristiwa dimana jumlah masyarakat berusia produktif (15-64 tahun) lebih banyak dibandingkan jumlah masyarakat berusia non-produktif. Sehingga banyak yang memprediksikan bahwa Indonesia ketika mengalami bonus demografi (sekitar tahun 2020-2040) akan memiliki kekuatan ekonomi ke-7 terbesar di dunia (bahkan ada juga prekdiksi di urutan ke-3).

Sedikit melihat ke belakang, Jepang yang negaranya pada tahun 1945 dibombardir oleh Amerika Serikat berhasil bangkit dan melesat karena pada tahun 1950 mengalami bonus demografi.

Pertanyaannya apakah bonus demografi selalu menjadi keuntungan? Udah pasti nggak. Karena pada saat jumlah masyarakat usia produktif sangat tinggi tapi kualitas pendidikan masih rendah juga infrastruktur masih kurang maka akan terjadi drama pengangguran besar-besaran. Salah satu skenario paling buruk ialah tingginya tingkat kriminalitas, hingga mungkin perlu Batman untuk menguranginya (becanda hehehe). Itulah sebabnya pemerintah ’gila-gilaan’ membangun pemerataan infrastruktur di seluruh Indonesia. Coba bayangin, apa muat itu Jakarta dipenuhin lonjakan penduduk usia produktif yang bareng-bareng menguji nasib di sana?

Oke lah infrastruktur itu urusan pemerintah, kita cuma bisa dukung, tapi apa kita hanya menyerahkan penuh masalah pendidikan ke tangan pemerintah aja?

Sebenernya agak pesimis juga sih kalo liat tingkah laku generasi muda Indonesia saat ini, abis kebanyakan cuma bisa ikut-ikutan, kayak nggak punya prinsip gitu (cieee apa coba prinsip? hehe). Profesor Rhenald Kasali di dalam bukunya membagi jenis karakter manusia menjadi 4, yaitu: good driver, bad driver, good passenger dan bad passenger. Dimana driver identik dengan seorang pemimpin dan passenger setara dengan pengikut. Seorang pemimpin yang baik akan menghasilkan pengikut yang baik, begitu pula sebaliknya dan seorang pengikut yang buruk akan berpotensi besar menjadi pemimpin yang buruk, berlaku sebaliknya.

Generasi muda Indonesia juga belom sepenuhnya peduli akan istilah “memanusiakan manusia”. Mungkin secara teori ngerti, namun prakteknya masih belom keliatan secara signifikan. Masih banyak yang lebih menghargai materi pribadi daripada kepentingan bersama. Contoh kecilnya, saat menikah banyak orang lebih mikirin biaya pernikahan yang cuma berlangsung sebentar dibanding manusia yang akan lahir dari pernikahan itu (anak) yang tentunya membutuhkan proses panjang dan menentukan nasib bertahannya pernikahan itu sendiri. Mungkin karena gua sering denger cerita anak jalanan yang kurang beruntung (bukan cuma masalah ekonomi), juga ketidakakuran (bisa sampe kekerasan) dalem rumah, jadi agak lebay bayangan gua.

Bisa jadi gua banyak salahnya sih, soalnya data di akhir tahun 2016 itu banyak yang positif kok. Nilai mata uang Rupiah sepanjang tahun 2016 menguat 2,34% terhadap Dollar Amerika, tertinggi kedua di Asia setelah mata uang Yen Jepang (2,89%). Terus bursa efek Indonesia juga bagus, sepanjang tahun 2016 menguat 15,32%, di Asia cuma kalah dari Thailand yang menguat 19,79%. Hal baiknya adalah kalo diliat dari 2 indikator itu berarti masih banyak orang-orang yang optimis sama mata uang dan bursa saham dalem negeri. Jadi sebenernya kita harus tetep optimis di masa depan dimana kita tahun 2020 akan memasuki AFTA (ASEAN Free Trade Area). Satu hal lagi yang dibutukan seluruh lapisan masyarakat Indonesia selain optimis adalah mau bergerak, bukan cuma nungguin orang lain bertindak, apalagi cuma teriak-teriak menyalahkan berbagai pihak.

Jadi balik lagi, apakah bonus demografi sama dengan generasi emasnya suatu bangsa?

Jawabannya ditentukan oleh suatu bangsa itu sendiri.

Impian Seorang Pecinta Buku

Country-quote-John-F.-Kennedy

Pada suatu hari, hidup seorang pemuda yang suka membaca buku. Namun hidup ini ternyata tidak seindah yang ia mimpikan. Oleh karena itu, ia berusaha memberikan sebanyak mungkin buku-buku yang dapat menambah pengetahuan ke seluruh penjuru negeri. Impiannya sederhana, ia ingin hidup ini menjadi lebih indah. Tamat.

Hahaha. Udahlah nggak usah terlalu serius.

Lagi iseng aja sih sebenernya, mungkin juga sedikit rasa seneng karena gua menemukan kembali diri gua yang lama, meski masih sebagian. Lumayan lah, 1 bulan bisa ngabisin 5 buku non-fiksi, dulu mungkin jumlah segitu abis dalam 1 minggu hehe, bahkan masih tetep rutin olahraga dan bisa berinteraksi sosial dengan komunitas kecil walaupun makan serba seadanya hahaha. Seiring berjalannya waktu pasti banyak yang akan berubah.

Melihat fenomena yang terjadi di masyarakat, gua jadi inget tulisannya Robert T. Kiyosaki yang memaparkan sebuah fenomena “mentalitas berhak” (gua nggak tau bahasa inggrisnya apa) di sekeliling kita. Maksud dari “mentalitas berhak” adalah mental seseorang yang selalu menuntut hak ini dan itu, namun jarang berpikir tentang kewajibannya. Mungkin kita sama maunya enak terus, serba difasilitasi apapun keperluannya hehehe. Namun terkadang lupa berpikir apa aja yang udah dilakukan untuk kemajuan bangsa dan negara.

Udahlah nggak usah terlalu serius.

Sebenernya banyak kejadian aneh bin ajaib (gila, istilahnya tua amat) yang gua dan mungkin beberapa orang lain nggak abis pikir kenapa bisa terjadi. Contohnya kejadian asal ngutip atau asal ngomong yang lucu kalo ditelaah lebih dalem lagi. Mungkin bener, banyak dari kita (termasuk penulis) itu kurang piknik.

Ngomongin soal piknik, ada lagi fenomena masyarakat Indonesia yang kalo diliat sih lebih bangga jalan-jalan atau foto-foto di luar negeri dibanding di negeri sendiri. Apa karena kurangnya rasa cinta pada negeri sendiri atau lebih keren aja buat dipajang di sosial media? Walau nyatanya banyak banget tempat-tempat indah di negeri sendiri yang belom sempet disinggahi, yang penting negeri orang udah hehehe. Mungkin kelasnya beda kalo foto di negeri yang udah maju dibanding negeri sendiri. Padahal pemerintah Indonesia sendiri gila-gilaan untuk meningkatkan jumlah turis yang berlibur di Indonesia, sampe-sampe beberapa negara dibebaskan membuat visa. Namun sepertinya nggak berhasil.

Hahaha. Udahlah nggak usah terlalu serius.

Kisah Nyata: Monique van der Vorst

monique-Copy

Monique van der Vorst  lahir dari  keluarga penggemar olahraga. Bahkan ibunya, Elysse, adalah atlet renang Belanda dan salah satu kakaknya, Joost, atlet hoki. Ia sendiri sudah menggeluti olahraga tenis dan hoki pada usia 13 tahun.

Suatu kali ayahnya memberinya hadiah sepeda. Ia amat senang dan sering mengendarainya sebagai pengganti lari. Namun kakinya sering bergetar sendiri, bahkan mata kakinya sering terasa sakit. Saat berjalan sering tiba-tiba terpincang-pincang.

Kondisi ini membuat orangtuanya kemudian membawanya ke dokter. Lalu ia direkomendasikan untuk menjalani operasi tendon. Usai operasi, bukannya membaik malah semakin parah dan tidak bisa berdiri. Dua tahun kemudian, Monique harus menarik kaki kirinya untuk berjalan. Dokter akhirnya mendiagnosis kalau ia terkena muscular dystrophy di kaki kirinya, sehingga kakinya harus diamputasi.

Hal ini mengagetkan Monique dan keluarganya. Apa hanya karena itu harus dilakukan amputasi? Mereka tidak segera merespon saran amputasi itu. Mereka sepakat untuk memasukannya ke panti rehabilitasi dengan penanganan intensif bidang fisioterapi untuk melatih kakinya.

Menurut dokter, ada kelebihan cairan yang menyebabkan terjadinya pembengkakan di kaki kirinya. Hal inilah yang menyebabkan dokter sebelumnya merekomendasikan untuk menjalani amputasi agar tidak merembet ke anggota tubuh lain. Namun melalui latihan fisik yang dijalaninya selama delapan bulan di rehabilitasi, penumpukan cairan itu perlahan hilang hingga tidak diperlukan lagi untuk menjalani amputasi. Akan tetapi karena selama ini tubuhnya hanya bertumpu pada kaki kanan, ia mengalami gangguan lain di lutut kanannya. Dan karena kaki kirinya lumpuh, tak ada cara lain selain harus menggunakan penopang (crutch).

Agar tak berdampak lebih buruk, dokter menyarankan Monique untuk menggunakan kursi roda. “Saya masih berusia 15 tahun ketika dokter menyarankan saya menggunakan kursi roda. Kaki kiri saya lumpuh dan kaki kanan saya tidak mampu lagi menopang tubuh saya,” tuturnya dengan sedih.

Di panti rehabilitasi, ia memiliki sejumlah teman akrab. Salah satunya adalah atlet Paralimpik  cabang sepeda tangan (handcycling). Dan Monique pun diperkenalkan pada olahraga ini. Dan setelah itu ia tertarik menekuninya secara serius.

Dia hanya berlatih sekadarnya, pada musim semi 2000, Monique unutuk pertama kalinya berpartisipasi dalam lomba handcycling. Lebih hebatnya, ia menjadi juara  di partisipasi perdananya itu. Tahun 2001, ia kemudian mewakili negaranya ke kejuaraan Eropa dan menjadi juara cabang olahraga ini.

Tahun 2002, ia memperbaiki cara duduknya di kursi roda agar menghasilkan tenaga yang lebih kuat dan laju sepeda yang lebih cepat. Tahun 2004, ia kembali mengubah cara duduknya. Kali ini dengan cara berlutut di tempat duduknya. Meski aneh, cara tersebut ternyata membuatnya lebih cepat melaju. Tahun 2005, selain mempertahankan juara Eropa dan menjadi juara dunia, ia juga membuat rekor dunia baru di cabang marathon dengan catatan waktu 15 menit dan 24 detik.

Sampai pada tahun 2009, sejumlah kejuaaran sudah diikutinya. Di Paralimpik beijing 2008 ia meraih medali perak untuk cabang time trial dan road race. Tak puas dengan itu, hampir semua cabang sepeda tangan diikutinya di beberapa kejuaraan baik di 100 meter, 200 meter, 400 meter, 1000 meter, marathon. Bahkan ia juga mengikuti Hawaii Iron Man yang mempertandingkan olahraga renang sepanjang 3,8 km, bersepeda tangan sepanjang 180 km, dan diakhiri dengan marathon di atas kusi roda sepanjang 42 km. Hanya delapan atlet difabel yang dibolehkan ikut. Dan hanya dia yang bisa menyelesaikan lomba di bawah limit, dialah satu-satunya atlet difabel yang pernah melakukannya.

Dengan prestasi yang luar biasa itu, Monique pun menjadi atlet difabel pujaan publik Belanda dan dunia. Ia menjadi andalan  Belanda di berbagai kejuaraan olahraga para difabel seperti Paralimpik. Termasuk rencananya kembali memperkuat Belanda di Paralimpik 2012 London.

Namun pada 13 Maret 2010 terjadi kecelakaan yang menimpa dirinya. Saat itu ia tengah mengikuti pusat pelatihan di Spanyol. Ia sedang berlatih bersama temannya di Malaga. Namun dalam satu kesempatan, ia bertabrakan dengan rekannya. Ia terjungkal  dan kaki kirinya  yang lumpuh terjepit di kusi rodanya. Saat itu ia merasakan seseuatu yang aneh, kakinya seperti tersetrum dan bergetar-getar sendiri setelah tabrakan itu. “Kaki saya tak berhenti bergerak. Bahkan ketika saya tiba di rumah sakit untuk untuk melakukan relaksasi otot, kaki saya masih bergetar-getar,” ujarnya.

Selama 13 tahun sebelumnya, ia tidak pernah merasakan apa-apa di kaki kirinya. Sekarang tiba-tiba saja kakinya bergerak-gerak sendiri dan denyutannya panas dan semakin lama semakin terasa. Ia mencoba mengangkat kaki kanannya yang selama ini lemah, ternyata ia bisa melakukannya. Ia juga mencoba melakukan hal yang sama pada kaki kirinya. Pada awalnya hanya bisa bergerak sedikit hingga kemudian ia bisa mengangkatnya juga. Seperti mimpi dan bertanya-tanya pada dirinya, apa benar yang dialaminya ini atau sekadar mimpi.

Lama ia mendiamkannya. “Saya takut itu hanyalah harapan palsu,” katanya. Namun pada akhirnya ia memberitakan apa yang dialaminya kepada kedua orangtuanya. Mereka kaget, kemudian segera setelah itu Monique dikirim kembali ke panti rehabilitasi.

Kali ini ia menjalani terapi yang berbeda. Ia mulai diajarkan untuk mengangkat kaki, lalu belajar berdiri menggunakan kaki sendiri, terus belajar melangkah. Meski sempat tersungkur, perkembangan itu menggembirakan.

Pada ulang tahunnya yang ke-26 pada 20 November 2010, ia merasakan perasaan yang sangat aneh. Di satu sisi, ia menunjukan pada seluruh kerabatnya bahwa kali ini ia bisa berjalan sendiri, di sisi lain, ia merasa sedih karena atlet berbakat yang telah meraih penghargaan sebagai “Disabled Athlete of the Year 2009” itu ternyata sekarang menjadi orang normal.

Sungguh ini keajaiban yang tidak disangkanya. Bahkan dokter pun masih mempelajari apa yang sebenarnya terjadi pada Monique sehingga ia sekarang menjadi manusia normal.

Syukur dan Doa dari Seorang Gadis Kecil

iStock_000002140552Medium

“Tuhan, Engkau ‘kan tahu, ujian matematikaku hari ini sangat buruk. tetapi, aku bersyukur. aku tidak menyontek, walaupun teman-temanku melakukannya. berangkat ke sekolah tadi pagi, aku membawa sepotong kue dan sebotol air. Kata ayah, sekarang sedang musim peceklik. Jadi, hanya itu yang bisa ku bawa. Terima kasih kuenya, Tuhan. Di jalan aku melihat pengemis yang kelaparan. Lalu aku berikan kue padanya. Tahu-tahu saja laparku hilang ketika melihatnya tersenyum.”

“Tuhan, lihatlah, ini sepatuku yang terakhir. Mungkin aku harus berjalan tanpa sepatu minggu depan. Engkau ‘kan tahu, sepatu ini sudah rusak berat. tapi tidak apa-apa. Aku tetap bersyukur. Paling tidak, aku masih bisa pergi ke sekolah. Terima kasih Tuhan. Tetanggaku bilang, orang-orang sedang mengalami gagal panen. Beberapa temanku terpaksa berhenti sekolah. Tuhan, tolong bantu mereka supaya bisa sekolah lagi.”

“Oh iya! semalam ibu memukulku. Mungkin karena aku nakal. Itu memang menyakitkan, tapi pasti sakitnya akan segera hilang. Aku tahu, Engkau akan menyembuhkan sakit itu. Yang penting, aku masih punya seorang ibu. Tuhan, tolong jangan marahi ibuku, ya? Dia hanya lelah, juga panik memikirkan biaya sekolahku. Terakhir, Tuhan. Rasa-rasanya, aku sedang jatuh cinta. Ada seorang pria yang tampan di kelasku. Menurut Engkau, apakah dia menyukaiku? Tapi apapun yang terjadi, aku tahu Engkau tetap menyukaiku. Terima kasih Tuhan.”

Mencari Ketenangan Hidup

CIMG1400

Awalnya saya menemukan sebuah tweet yang mengakibatkan saya terpacu pergi ke toko buku untuk membeli sebuah buku. Ya, buku itu berjudul Sejenak Hening. Sebenarnya saya lupa tulisan dalam tweet itu apa, tapi itu tidak penting, yang penting saya mau bercerita tentang pengalaman saya membaca buku Sejenak Hening ini.

Seingat saya, pada saat itu pikiran saya sedang cukup padat. Demi lebih menenangkan pikiran saya, mulailah saya membuka lembaran demi  lembaran buku ini sampai tibalah saya di sebuah cerita yang berjudul Menutup Jendela. Di sini dibahas bahwa kita sering lupa menutup jendela indera kita sehingga informasi yang kita terima tidak hanya yang baik saja namun yang buruk pun kita masukan semua. Informasi yang kita terima tidak hanya secara langsung, tetapi juga secara tidak langsung melalui televisi, komputer, dan telepon yang selalu setia menemani kita. Kedamaian dalam diri pun mulai terusik oleh hal-hal yang berasal dari luar diri. Apakah salah jika kita selalu membuka jendela indera kita? Tentu tidak demikian. Namun ada kalanya kita harus cermat memilih mana yang harus masuk dan mana yang harus dibiarkan keluar.

Kembali saya membaca, lalu bertemulah saya dengan cerita Menunda Bahagia. Terkadang kita terlalu berfantasi, terlalu mendramatisir kehidupan kita untuk mencapai kebahagiaan. Padahal kebahagiaan datang bukan di saat kita memeroleh sesuatu yang belum kita miliki, namun kebahagiaan itu tiba ketika kita pada saat ini juga memanggilnya dan merasakan kehadirannya. Nikmati dan syukuri hal-hal kecil di sekitar kita, tidak perlu menunda hingga hari esok untuk merasakan bahagia.

“Procrastination is the thief of time.”

~Edward Young

Berjalan menjelajahi isi buku dan saya mulai menyadari bahwa pada hari-hari yang saya jalani saya sering menemukan orang-orang yang pelit memberikan senyuman, mungkin termasuk saya. Jika kita memerhatikan kita akan menemukan fakta dimana anak-anak jauh lebih banyak tersenyum bahkan tertawa dibandingkan orang dewasa. Padahal kita sadar akan menjadi lebih bersemangat dan senang ketika kita menjalani pekerjaan dengan banyak tersenyum ikhlas. Bagaimana caranya tersenyum? Kita bisa menggantungkan benda-benda yang mengingatkan kita untuk tersenyum, misalnya barang yang kita suka ataupun tulisan kata-kata humor. Semuanya sudah ada untuk kita. Udara, hujan, kicauan burung, dan keindahan alam bisa kita nikmati dan gratis. Saat kita memberikan sesuatu untuk seseorang, tidak akan pernah bisa memberi kebahagiaan sebesar senyum yang kita berikan untuk orang tersebut.

Membuka Hati. salah satu cerita favorit saya di buku ini. Akhir-akhir ini, terlihat banyak orang mendengar tapi belum tentu mereka benar-benar mendengar(kan). Yang namanya mendengar(kan) adalah mendengar yang dapat membantu meringankan penderitaan seseorang yang sedang bicara pada kita. Mendengar(kan) bisa disebut dengan mendengar dengan penuh kasih sayang. Jadi, tidak ada rencana terselubung. Sebaiknya mendengar(kan) diawali dengan niat penuh cinta dan kasih sayang. Dengan demikian orang yang berbicara kepada kita akan membuka hatinya. Terkadang muncul anggapan seolah-olah orang yang lebih pintar adalah orang yang lebih banyak bicara. Padahal kemampuan mendengar(kan) bisa menjadi solusi menghadapi konflik yang tidak bisa diselesaikan dengan hanya bicara panjang lebar. Pasti akan indah jadinya ketika sosial media lebih menekankan untuk mendengar(kan) saja. Jadi yang nampak lebih keren adalah mereka yang following-nya lebih banyak. Sehingga tidak ada yang minta follback karena lebih sering menyimak dan mendengarkan orang lain.

Pagi itu liar. Belum jinak. Tubuh kita belum siap. Pikiran kita masih setengah bermimpi. Oleh karena itu, kita sebaiknya memersiapkan diri supaya bisa menyapa pagi dengan baik. Tibalah saya di halaman buku yang dicetak warna hijau ini. Bagaimana kita bisa mengondisikan diri supaya sesaat setelah bangun pagi, kita bisa menikmati pagi dengan kesadaran penuh? Baiklah kalau begitu. Saat bangun pagi dan masih terbaring di kasur, luangkan waktu 1 menit saja untuk menyadari tubuh. mulai dari jari kaki, tumit, kaki, pinggul, dada, tangan, dan leher ke kepala. Menyatu dengan tubuh. selalu ada waktu untuk memikirkan apa yang terjadi. Perhatikan berapa banyak pengalaman yang ada di setiap menit yang kita lalui? Dan lihat lah pengalaman tersebut sebagai ucapan syukur dan penghargaan atas hidup. Pelankan kecepatan pagimu. Sadarilah saat kita berjalan. Sadarilah setiap kegiatan yang kita lakukan. Rasakan, dengarkan, perhatikan. Pelankan pagimu teman. Meskipun sebenarnya saya tidak merangkai tulisan ini saat pagi hari.

Banyak hal yang saya peroleh ketika membaca. Sampai-sampai baru tersadar semakin hari kita sering ditemukan oleh makhluk jahat yang dinamakan tergesa-gesa dan terburu-buru. Pernah saya dikagetkan karena mendengar suara dari suatu lokasi yang berbunyi, “Buruan! Cepetan!”, dan sebagainya. Kemampuan bersabar adalah sebuah anugerah. Kita bisa memilih menjalani hidup dengan tergesa-gesa atau menikmati hidup dengan kesabaran. Untuk memeroleh bahagia, kita tidak harus terburu-buru. Berhenti sejenak dalam kecerian sederhana setiap hari. Itulah cara terbaik untuk benar-benar hidup.

Ciptakan keheningan, pejamkan mata, resapi dan rasakan setiap nafas yang masuk dan keluar.

Begitulah cerita dari saya yang penuh kekurangan dan kesederhanaan ini. Untuk merasakan pengalaman yang lebih menenangkan dengan lebih banyak cerita, belilah dan baca buku aslinya. Terima kasih sudah mau mendengar(kan).

Menjaga Kesehatan Usus

CIMG1427

Pada suatu hari, saya mendengar dan melihat langsung bahwa ada seorang teman yang berusaha sangat keras untuk menurunkan berat badan dengan melakukan diet yang cukup ekstrim. Meski diet itu dilakukan demi upaya detoksifikasi dan hanya berlangsung selama 13 hari, namun menurut saya berlebihan karena kebutuhan kalori harian yang harus dikonsumsi tidak mencukupi. Hal tersebut akan menyebabkan seseorang mudah lelah karena kekurangan energi untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Oleh sebab itu, saya memutuskan untuk membeli sebuah buku yang berjudul Revolusi Makan agar tidak tersesat.

Sering tidak buang air besar selama 2-3 hari, selalu mengalami nyeri haid yang parah dan tidak teratur, kulit terasa kasar saat stres, badan lemas saat bangun pagi, nyeri leher atau pundak yang parah, cepat lelah, sering depresi, sulit tidur, kaki dan tangan kadang membengkak di sore hari, mudah pusing dan menderita anemia, makan berlebihan meski tidak merasa lapar, perut sering terasa kembung, begah, sering mengeluarkan kentut yang sangat berbau, perut sering terasa bergemuruh saat berolahraga, terlalu peka terhadap udara dingin, sering terserang flu dan masuk angin, menderita alergi serbuk sari setiap tahun, berat badan cenderung meningkat, suhu tubuh rata-rata kurang dari 35 derajat celsius. Jika terdapat lebih dari 3 peristiwa di atas terjadi pada kita maka hal itu menandakan ada ketidakberesan pada usus kita.

Makanan yang kita konsumsi setiap hari dicerna oleh lambung dan diserap oleh usus. Usus halus bertugas menyerap sari makanan dan usus besar bertugas menyerap cairan dari sisa penyerapan di usus halus sehingga menghasilkan produk akhir berupa kotoran. Akan tetapi, kebanyakan orang tidak mengalami proses cerna-serap-buang tersebut dengan baik. Buktinya dapat diketahui dari pola buang air besarnya. Terdapat beberapa makanan yang menambah bebas usus, diantaranya produk hewani dan olahan susu, seperti susu sapi dan daging, roti dan mi yang terbuat dari tepung gandum putih, kue dan paganan yang mengandung gula putih, dan makanan yang mengandung banyak minyak. Makanan-makanan tersebut kurang baik dikonsumsi karena tidak mengandung zat-zat fitokimia, mineral, vitamin, dan serat yang cukup untuk merangsang kerja usus secara optimal. Ada 3 jenis makanan yang dapat menyehatkan usus, yaitu sayur-sayuran, buah-buahan, dan air.

Sayur-sayuran dan buah-buahan mentah yang dibudidayakan secara organik tanpa menggunakan bahan-bahan kimia sintesis mengandung lebih banyak enzim dibandingkan dengan sayur dan buah mentah yang dibudidayakan secara konvensional menggunakan pupuk sintesis atau obat-obatan. Dengan memerhatikan kuantitas dan kualitas enzim dalam suatu makanan merupakan dasar pembentukan pola makan yang menyehatkan.

Setelah membaca beberapa halaman buku ini, kita akan menemukan tulisan yang berjudul Ubahlah Kebiasaan Makan Pagi. Yoghurt yang diklaim baik bagi usus ternyata justru dapat membuat usus mengeras dan mengakibatkan sembelit atau diare. Untuk memerbaiki kesehatan usus, sangatlah baik ketika bangun tidur, segera meminum air yang berkualitas baik yang tidak didinginkan ataupun dipanaskan. Kemudian makan buah di pagi hari juga sangat baik dilakukan. Tujuannya adalah meningkatkan kadar enzim agar tetap terjaga selama beraktivitas pada hari itu. Jika kita kekurangan enzim maka tubuh akan terasa cepat lelah meskipun sudah beristirahat cukup lama.

Usus selalu bekerja sekuat tenaga untuk mencerna, menyerap, dan membuang makanan kita. Usus yang bekerja secara terus-menerus tanpa beristirahat akan berangsur-angsur melemah hingga tidak dapat menyerap sari makanan secara maksimal. Hal itulah penyebab munculnya beragam gangguan pada usus. Jadi, berikanlah jeda waktu untuk mengistirahatkan usus selama setengah hari. Sebagai contoh, janganlah mengonsumsi apa pun selain sedikit air setelah makan malam (paling lambat jam 9 malam), lalu tidurlah pada waktu tidur seperti biasa. Keesokan harinya, batasi makan hingga siang hari (sekitar jam 12 siang). Dengan demikian, kita telah berpuasa selama sekitar 15 jam. Jika bicara tentang puasa, muncul pengertian bahwa puasa adalah keadaan tidak makan apapun, tetapi secara medis, hal ini berarti mengonsumsi sedikit buah-buahan dan air yang cukup pada pagi hari.

Makan ikan lebih baik daripada makan daging. Meskipun sama-sama tergolong bahan makanan hewani, kualitas lemak ikan sangat berbeda dengan lemak daging. Lemak di dalam daging akan menjadikan darah kita lebih kental, sedangkan lemak di dalam ikan justru akan menjadikan darah kita lebih encer. Di dalam sisik ikan juga mengandung banyak kolagen, zat yang diketahui berperan penting dalam menjaga kulit tetap kencang. Jika tubuh kita kekurangan kolagen, seberapa banyak pun kita mengonsumsi kalsium, volume tulang tidak akan bertambah.

Mungkin kita sudah sering mendengar bahwa mengunyah makanan hingga halus sebelum ditelan akan memudahkan makanan tersebut untuk dicerna, namun pada kenyataannya, tidak banyak orang yang melakukan hal tersebut karena kesibukannya.  Semakin banyak kita mengunyah maka semakin banyak pula enzim yang bernama amilase keluar bersama air liur yang tidak hanya berfungsi menguraikan zat tepung pada makanan, namun juga dapat menghambat perkembangbiakan bakteri perusak gigi. Sehingga mengunyah makanan dengan benar akan membantu proses pencernaan dan menghambat pengeroposan gigi.

Beralihlah dari nasi putih ke nasi merah. Selama ini, banyak orang mengira bahwa beras merah hanya enak jika dimasak dengan panci bertekanan tinggi, namun sebernarnya beras merah dapat dimasak dengan penanak nasi biasa seperti beras putih. Beras merah mengandung lebih banyak serat daripada beras putih sehingga kita tidak harus mengonsumsi banyak sayuran untuk mencukupi kebutuhan makanan berserat. Beras merah terbaik untuk dikonsumsi adalah beras merah organik yang dirawat tanpa menggunakan pestisida. Usahakan untuk selalu menyediakan menu makanan sederhana di rumah. Selain lebih hemat, menu sederhana juga dapat mendukung upaya kita untuk membersihkan usus.

Selain makanan berminyak, kita juga perlu mengurangi konsumsi makanan manis. Sumber masalah terbesar dalam hal ini adalah gula putih. Sama dengan kandungan gula pada nasi dan roti, gula putih juga berguna mengubah gizi menjadi energi, namun jika dikonsumsi terlalu banyak maka akan meningkatkan kadar gula darah dalam tubuh. Apabila kita terlalu banyak mengonsumsi gula, pankreas akan kelelahan sehingga melemah dan tidak mampu lagi memproduksi insulin secara normal. Seandainya kita tetap merasa harus mengonsumsi gula maka gula merah adalah pilihan yang tepat karena mengandung banyak mineral  dan lebih mudah diserap oleh tubuh dibandingkan gula putih.

Tiba dipembahasan yang sangat menarik bagi saya. Belakangan ini, semakin banyak wanita dan anak-anak yang mempunyai kebiasaan merokok. Padahal merokok mengakibatkan mengecilnya pembuluh kapiler sehingga menghambat aliran gizi dan oksigen bagi sel-sel di seluruh tubuh. mungkin kita pernah mendengar bahwa berhenti merokok dapat membuat tubuh menggemuk. Sebenarnya yang terjadi adalah pelebaran kembali pembuluh kapiler sehingga aliran gizi ke seluruh tubuh menjadi lebih lancar setelah kebiasaan merokok ditinggalkan. Kemudian ada juga kesesatan kesimpulan yang berpendapat bahwa badan akan terasa relaks setelah  meminum alkohol. Yang terjadi sebenarnya adalah rasa nyaman yang timbul disebabkan pembuluh darah yang melebar sejenak, tetapi beberapa saat kemudian, pembuluh darah akan mulai mengecil sehingga menimbulkan gangguan transportasi oksigen dan zat gizi. Hal tersebut berakibat timbulnya pembengkakan dan keletihan kronis karena sampah yang menumpuk di dalam sel menjadi sulit dikeluarkan.

Jadi, kebiasaan merokok dan minum minuman beralkohol bukanlah cara yang cerdas untuk menghilangkan stres. Ada banyak cara lalin untuk mendapatkan kesenangan dan mengurangi stres. Awali dengan berusaha memiliki usus yang sehat dan sel yang awet muda karena keduanya adalah kunci untuk menikmati hidup. Lalu tumbuhkan kasih sayang kepada setiap orang dan syukuri apa saja yang ada pada diri kita meskipun kita mengalami kegagalan. Menjalani kehidupan dengan kejujuran kepada diri sendiri akan mendorong berjalannya detoksifikasi hati dan pikiran.

Banyak pembahasan dalam buku yang tidak saya tulis semua, diantaranya khasiat kuncup bunga, rumput laut, dan enema kopi. Karena semua hal yang saya tulis di sini hanyalah sebagian kecil dari isi keseluruhan buku. Oleh karena itu, belilah bukunya yang asli kemudian sebarkan manfaatnya kepada orang-orang di sekitar kita.

Sudahkah Anda merasa lebih baik dan bugar hari  ini?

Memelajari Program Filter

CIMG1446

Pada saat itu, saya sangat penasaran dengan yang namanya Neuro Linguistic Programming (NLP). Sekedar untuk mengerti bagaimana cara kerjanya, akhirnya saya memutuskan untuk membeli 1 buku. Nama buku ini cukup unik, Managing with NLP. Buku ini sebelumnya pernah terbit dengan judul ProFil yang diambil dari singkatan 2 kata, yaitu Program Filter. Baiklah, mari mulai memasuki buku ini.

Tulisan di dalam buku ini sengaja didesain berbentuk dialog layaknya perbincangan yang terjadi dalam suatu workshop. Hal ini dilakukan agar lebih memudahkan pembaca untuk langsung memahami perkara yang menjadi topik utama karena seakan-akan kita dibawa ikut berpartisipasi dalam melakukan praktik.

ProFil pertama yang dibahas dalam buku ini adalah bagaimana cara kita mengerti arah motivasi seseorang, mendekati atau menjauhi. Untuk memahami arah motivasi seseorang kita harus mengerti kriteria orang tersebut dalam memilih. Contohnya, mari kita serahkan kepada si A dan si B. Awalnya A bertanya pada B: “apa yang Anda inginkan dari sebuah (konteks)?”. Konteks bisa berupa pekerjaan, rumah, sepatu, mobil, olah raga, dan sebagainya. Kemudian B menjawabnya dengan memberikan beberapa kriteria yang ia inginkan. Lalu A menanyakan kembali mengapa kriteria-kriteria itu penting bagi B. Selajutnya, A bertanya mengapa alasan itu dipilih oleh B. Untuk mengetahui motivasi B ke arah mendekati atau menjauhi, A harus memberi perhatian penuh pada tiap jawaban-jawaban si B. Apabila jawaban B memiliki ciri untuk mencapai tujuan dengan menggunakan kata seperti memiliki, memeroleh, menjaga, dan tentang keuntungan, maka B mempunyai arah motivasi mendekati. Namun jika jawaban B memiliki ciri untuk menghindari masalah dengan menggunakan kata seperti mencegah, terhindar, tidak harus, tidak mau terlibat dengan sesuatu, dan risiko,  maka B mempunyai arah motivasi menjauhi.

Perlu diingat bahwa motivasi sesorang bisa kita ketahui arahnya tergantung pada konteks yang kita tanyakan. Tidak berarti arah motivasi tersebut sama pada setiap konteks dan bisa berubah-ubah tergantung pada situasi dan kondisi saat itu. Jadi tidak bisa kita menilai seseorang dari sudut pandang 1 konteks yang kita pertanyakan kepadanya.

Pada bab selanjutnya, kita akan dibawa untuk mengetahui ProFil 2, yaitu sumber motivasi. Nantinya kita akan bisa mengerti sumber motivasi orang lain itu bersifat internal atau eksternal. Untuk itu, kita harus memberikan pertanyaan yang merangsang seseorang memberikan tanggapan. “Bagaimana Anda tahu bahwa Anda sudah menyelesaikan tugas Anda dengan baik di (konteks)?”. Konteks dalam pertanyaan tersebut dapat kita isi dengan kantor, rumah, lapangan, sekolah, kampus, panggung, dan lain sebagainya. Dari jawaban itulah kita bisa mengidentifikasi sumber motivasi orang tersebut. Jika jawabannya terkesan bahwa ia merasa puas berdasarkan standar pribadi yang ada pada dirinya sendiri dan tidak terlalu memertimbangkan pendapat orang lain, maka ia memiliki sumber motivasi internal (dari dalam). Sedangkan jika jawabannya terkesan bahwa ia merasa puas berdasarkan tanggapan, masukan, pendapat, dan standar orang lain, maka ia memiliki sumber motivasi eksternal (dari luar).

Pada ProFil 3 yang dibahas dalam buku ini, kita aka belajar mengetahui dasar motivasi seseorang. Terdapat 2 program: yang pertama, opsional yang memiliki pengertian bahwa seseorang termotivasi untuk melakukan sesuatu dengan cara-cara yang berbeda dan yang kedua, prosedural yang memiliki pengertian bahwa seseorang termotivasi melakukan sesuatu dengan cara-cara yang sudah tersusun dan teruji. Dasar motivasi seseorang bisa kita deteksi dengan memberikan filter: “mengapa Anda memilih (konteks) yang sekarang ini?”. Konteks di sana bisa pakaian, mobil, sekolah, asuransi, rumah, pekerjaan, tujuan perjalanan, dan sebagainya. Ciri komunikasi orang-orang opsional menunjukan kriteria yang langsung pada intinya, kata-katanya lugas, dan dapat memerluas pilihan, variasi dan alternatif. Sedangkan orang-orang prosedural memiliki ciri komunikasi bercerita panjang lebar, tidak langsung pada intinya, berurutan, dan memproritaskan prosedur yang ada.

Setelah melewati beberapa halaman, kita akan tiba di gambar 3 segitiga. “Apa hubungan ketiga segitiga tersebut?”. Persamaan, persamaan dengan kekecualian, atau perbedaan. Pemilik program persamaan akan menjawab hubungan ketiga segitiga itu sama. Pemilik program persamaan dengan kekecualian akan menjawab hubungan ketiga segitiga itu sama, tetapi ada sesuatu yang berbeda. Dan pemilik program perbedaan akan menjawab hubungan ketiga segitiga adalah tidak ada. Ada pun filter untuk mengetahui  ProFil seseorang dengan bertanya, “ apa hubungan antara (konteks) hari ini dengan (sekian bulan/tahun) yang lalu?”. Dimana konteks bisa berupa pekerjaan, seseorang, lingkungan, pakaian, tempat tinggal, dan sebagainya. Orang-orang persamaan akan cenderung melihat banyak hal yang tidak berubah dan menginginkan perubahan dengan sangat lambat (evolusi). Orang-orang persamaan dengan kekecualian  akan cenderung melihat terdapat hal yang tidak berubah namun ada beberapa perbedaan yang terjadi dan menginginkan perubahan secara bertahap, tumbuh perlahan, dan progresif. Sedangkan orang-orang perbedaan akan melihat banyak perbedaan yang terjadi dalam jangka waktu tersebut dan menginginkan perubahan dengan sangat cepat (revolusi).

Akhirnya sampailah kita di ProFil terakhir yang dibahas dalam buku ini, yaitu ProFil 5: tingkat motivasi. Ada 2 program di dalam tingkat motivasi, yaitu: proaktif dan reaktif. Filter yang perlu dilakukan adalah dengan menanyakan pertanyaan, “bagaimana cara Anda mengambil keputusan?”. Apabila ia seorang proaktif maka ia akan menjawab dengan kalimat yang singkat, termotivasi untuk bertindak segera, dan bertindak dahulu daripada berpikir. Apabila ia seorang reaktif maka ia akan menjawab dengan banyak berpikir, menganalisis, termotivasi untuk menunggu, dan sangat berhati-hati.

Lagi-lagi perlu diingat bahwa ProFil seseorang tidak lah selalu sama, tergantung dari konteks, situasi, dan kondisi pada saat pertanyaan diajukan. Hal ini dikarenakan manusia adalah makhluk yang kompleks sehingga tidak mudah untuk digeneralisir dan dikotak-kotakan.

Buku ini menjelaskan secara detail ciri motivasi (ProFil 1-5). Adapun gaya kerja (ProFil 6-8) yang hanya dibahas pada saat pelatihan namun tidak dalam buku ini. Untuk lebih memahami isi buku ini, silahkan beli bukunya. Sampai jumpa di tulisan berikutnya teman.

Menuliskan Sebuah Karya

CIMG1453

Jika diingat lagi, saya membeli buku ini dikarenakan ada beberapa teman di sekitar saya yang ingin mencoba menjadi penulis. Sebenarnya saya juga sedikit tertarik untuk mencoba menulis, buktinya saya mulai menulis blog. Tapi mungkin tujuan saya menulis belum sampai terpikir ke arah yang lebih komersial. Baiklah pada kesempatan ini, saya akan mencoba menceritakan isi buku yang berjudul Kitab Writerpreneur. Mari kita coba masuk ke dalamnya.

Terkadang kita sangat bersemangat memelajari hal baru, tapi di tengah perjalanan kita mulai menghadapi masalah karena hal tersebut baru kita pelajari sehingga semangat kita untuk melanjutkannya mulai menurun oleh berbagai  hambatan. Begitu pula pada saat kita mulai menulis. Sulit memertahankan konsistensi ketika menulis, apalagi pekerjaan kita itu tidak diawasi dengan ketat. Untuk itulah kita butuh motivasi yang kuat untuk menyelesaikannya. Di dalam buku ini ditulis ada 7 alasan penting bagi kita untuk menyelesaikan tulisan, antara lain bisa mengurangi stres, membantu menemukan jalan hidup, meningkatkan percaya diri, memerkaya inspirasi, menyimpan memori, meningkatkan kreativitas, dan dapat mendatangkan passive income. Bagaimana dengan motivasi kita? Apa yang menggerakan kita untuk menulis? Untuk memberikan dorongan buat kita, tuliskan motivasi menulis secara singkat, padat, dan jelas. Kemudian tempelkan tulisan atau gambar tersebut di tempat yang mudah terlihat.

Bagaimana dengan agenda kerja? Ya, penting sekali menetapkan agenda kerja agar progres kerja yang kita lakukan mudah dipantau dan diawasi. Tentukan target kapan tulisan kita akan diselesaikan. Buatlah agenda kerja yang diketik rapi dan sistematis. Jika perlu, tempelkan agenda kerja itu di sebelah tulisan motivasi menulis.

Langkah selanjutnya adalah mulai berlatih menulis. Apabila kita tidak terbiasa menulis maka akan sangat sulit mencoba membuat suatu tulisan. Oleh karena itu, biasakan menulis hal-hal kecil seperti kegiatan sehari-hari kita (diary). Setelah itu, cobalah menulis sebuah puisi tentang cinta, kehidupan, atau apa pun juga. Kemudian coba juga menuliskan resensi sebuah buku yang kita sukai. Resensi buku adalah rangkuman pendapat kita tentang sebuah buku yang berisi garis besar isi buku, hal yang menarik, serta informasi lainnya. Banyak hal yang bisa kita lakukan untuk melatih dan mengasah tulisan kita. Seperti bisa juga kita mencoba untuk menuliskan tips berdasarkan pengetahuan dan pengalaman yang kita ketahui. Contohnya di dalam buku ini dituliskan tips bagaimana menulis blog. Setelah keempat cara berlatih menulis tadi kita praktikan, mintalah pendapat orang-orang terdekat untuk menilai hasil keempat tulisan kita tadi. Jika jumlah nilai tulisan puisi dan diary kita lebih baik, maka kita berbakat untuk membuat tulisan fiksi. Apabila jumlah nilai tulisan tips dan resensi kita lebih baik, maka kita berbakat untuk membuat tulisan nonfiksi.

Adapun step yang harus dilakukan dalam menulis yang harus diperhatikan untuk membuat sebuah buku. Yang pertama adalah menemukan ide tulisan yang bisa didapatkan dengan cara menerapkan ilmu yang telah dipelajari, internet, buku, pengalaman hidup, berbincang dengan orang lain, berkhayal, televisi, serta radio. Yang kedua adalah alat bantu mengembangkan ide yang diperoleh dari mind mapping dan membuat kerangka pikiran sebuah buku (sinopsis).

Setelah sinopsis selasai dibuat, langkah yang selanjutnya dilakukan adalah mengurai sinopsis tersebut dengan cara mencari kata kunci dan menandai bagian-bagian penting yang akan dipisahkan menjadi outline buku. Lalu tuangkan outline tersebut ke dalam daftar isi buku. Dengan kata lain, pecah-pecahlah sinopsis menjadi bab-bab dalam buku sebagai jalan tercepat untuk membuat isinya.

Berdiskusi dan berceritalah kepada teman tentang sinopsis yang kita tulis agar membantu kita menemukan alur yang lebih sistematis, bahkan bisa menambah ide cerita kita. Carilah orang-rang kreatif dan ahli dalam bidang yang kita tulis. Bila ada kritik, hal itu adalah hal baik yang akan membangun tulisan kita. Kritik dan saran mereka tidak hanya membantu dalam hal tulisan saja, namun juga bisa memberi ide cover, gambar, bahkan referensi para tokoh terkenal untuk dimintai testimoni yang bisa dicantumkan di cover belakang buku.

Mulailah menulis bab demi bab. Jika kita cukup teratur mungkin kita mungkin akan menulis dari bab paling awal hingga bab paling akhir secara berurutan, namun tidak semua orang bisa melakukan hal tersebut. Ada beberapa orang yang malah mempunyai ide untuk bab yang ada di tengah saat mulai menulis. Apabila hal itu terjadi, lakukanlah hal itu tanpa harus menunggu ide datang untuk menyelesaikan bab awal. Merekam suara diri sendiri juga bisa dilakukan ketika situasi tidak memungkinkan untuk menulis. Selain memerhatikan segmentasi pembaca, banyak-banyaklah membandingkan dan membaca buku yang memiliki tema-tema sejenis dengan buku yang akan ditulis. Dengan begitu, kita bisa mengetahui kelebihan dan kekurangan tulisan kita sehingga lebih mudah untuk disempurnakan.

Tahap selanjutnya setelah menyelesaikan bab demi bab adalah menjadikanya lebih menarik dan berkaitan satu dengan lainnya. Tahap ini disebut melakukan editing. Proses editing akan membantu kita agar tidak terjadi pengulangan cerita atau materi pada beberapa bab. Cara-cara yang bisa dilakukan dalam editing, antara lain membaca tulisan kita dengan suara keras dan berintonasi, menajamkan atau mendetailkan dengan gambar atau kutipan yang menyentuh hati, membuat jembatan penghubung antara pernyataan yang satu dengan lainnya agar saling terkait, dan menyesuaikan gaya bahasa yang dipakai dengan segmen pembaca.

Setelah melakukan rangkaian hal yang dibahas di atas, saatnya kita untuk menentukan judul buku. Tidak hanya judul buku, subjudul buku juga harus menarik dan nyaman di hati pembaca. Untuk mendapatkan beberapa judul alternatif, kita bisa melakukan sharing dan brainstorming dengan teman-teman yang kita anggap mampu bertukar pikiran.

Ketika buku yang kita tulisakan sudah selesai, tahap selanjutnya yang perlu kita lakukan adalah mencari penerbit. Sebelum sampai ke penerbit, kita harus paham apa saja topik-topik yang disukai oleh penerbit, juga sertakan perlengkapan yang menyertai naskah, seperti surat pengantar, sinopsis naskah, CV, dan draf buku yang sudah tersusun rapi (softcopy dan hardcopy). Kemudian untuk memiih penerbit indie (self-publishing), penerbit nasional, atau agency dapat kita sesuaikan dengan tujuan kita. Untuk keterangan lebih lengkapnya, bisa dilihat di dalam buku.

Hal yang tidak kalah penting dari semuanya adalah desain cover buku. Karena cover buku sangat menentukan minat seseorang untuk memberi perhatian dan mencoba membaca. Dan hal itu nantinya  akan mempengaruhi keputusan untuk membeli atau tidak membeli buku tersebut.

Terakhir yang perlu dilakukan oleh penulis adalah mempromosikan buku di berbagai event, media elektronik, dan media cetak. Selamat mencoba.

Mengendalikan Diri Sendiri

CIMG1455

Kali ini saya akan membahas buku yang berjudul Self Driving yang saya yakin sangat bermanfaat ketika kita melihat pola tingkah laku masyarakat negeri ini yang kebanyakan hanya ikut-ikutan sehingga kita bisa mengubah pola tingkah laku negatif tersebut. Buku ini saya dapatkan dari meminjam teman yang sebelumnya saya rekomendasikan untuk membeli buku ini, maka terbentuklah win-win solution diantara kami. Hasil akhirnya ialah sama-sama mendapatkan ilmu yang bermanfaat. Tapi tenang, buku di tangan saya ini adalah buku asli, bukan bajakan.

Mari kita mulai membuka halaman buku ini. Begitu banyak di tengah-tengah masyarakat kita yang menilai kecerdasan seseorang dari hasil ujian tertulis, buku tes, dan paper. Kampus melibatkan diri dengan melabelkan mereka gelar, ijazah, dan nama universitas yang terkesan hebat. Padahal yang membawa kita menjadi pribadi yang bermanfaat bukanlah segala jenis label tersebut, melainkan diri kita sendiri. Kendaraan yang akan mengantarkan seseorang sampai ke tujuan adalah kendaraan yang dikemudikan oleh seorang pengemudi yang baik. Tentunya setiap orang memiliki impian yang berbeda-beda, jadi pengemudi terbaik menuju impian-impian kita adalah diri sendiri.

Apa bedanya seorang pengemudi (driver) dan seorang penumpang (passenger)? Seorang driver mampu mengemudikan kendaraan hingga titik tertentu, harus mengetahui jalan, dilarang mengantuk apalagi tertidur, mampu merawat kendaraan, dan sebuah piihan yang berisiko. Sedangkan seorang passenger hanya menumpang, tidak harus tahu memahami jalan, boleh mengantuk, boleh tidur, tidak perlu merawat kendaraan, dan sebuah piihan yang aman. Bagaimana caranya kita bisa menjadi seseorang yang bermental driver? Tentunya kita harus berani keluar dari zona nyaman kita dan mulai berpikir.

“Only 2% of the people think; 3% of the people think they think; and 95% of the people would rather die then think.”

~ George Bernard Shaw

Untuk bisa mengendalikan negara, kita harus bisa mengendalikan orang-orang terlebih dahulu. Untuk bisa mengendalikan orang-orang, kita harus bisa mengendalikan diri sendiri terlebih dahulu. Drive yourself, berarti diri kita sendirilah yang menjadi driver. Pertama-tama tentukan arah masa depan hidup kita. Untuk itu kita harus bermain sebagai pemenang, berani mengambil risiko, disiplin, bertanggungjawab, dan memiliki mindset yang terus tumbuh. Drive your people, berarti kita mampu berinteraksi dan tumbuh bersama kekuatan orang lain. Untuk mencapainya, kita harus memiliki goal setting, mampu mengambil keputusan, memimpin dengan hati, mau memberi, dan menumbuhkan myelin (muscle memory). Drive your nation, berarti kita mampu berkontribusi memajukan bangsa dan negara. Untuk sampai ke sana, kita harus mampu melenyapkan korupsi bahkan sampai hal yang kecil dan sanggup mendorong tumbuhnya pola pikir bangsa hingga memiliki sikap mental driver.

Terdapat 2 jenis driver, yaitu good driver dan bad driver. Bila diperumpakan, bad driver adalah seorang sopir yang ugal-ugalan dan atau sopir tembak yang tak terlatih. Orang-orang yang kita sebut sebagai bad drivers akan lebih banyak mengambil energi kita, mengajak kita untuk melakukan keributan-keributan dibanding langkah-langkah terhormat. Akibatnya reputasi kita perlahan-lahan tergerus, semakin terpuruk, semakin tidak dipercaya. Bad driver akan membuat good passengers belajar cara mengemudi kehidupan yang buruk. Para bad drivers bukanlah orang yang harus dijadikan teman. Lain halnya dengan good drivers. Mereka bisa disebut dengan banyak nama, seperti intrapreneur, profesional, admired CEO, pengusaha terpandang, value-added manager, dan sebagainya. Good driver adalah seorang inisiator, tokoh perubahan, dan mampu menjadi role model bagi banyak orang.

Kemudian salah satu cara mengubah seorang good passenger menjadi good driver adalah dengan memelajari  keterampilan assertiveness. Meski menurut kamus assertiveness diterjemahkan sebagai ketegasan, sebenarnya ia memiliki banyak arti. Assertiveness yang dibahas di buku ini lebih diartikan sebagai seni bertutur kata yang menampilkan gerak isyarat yang menunjukan ketegasan, namun tetap bersahabat tanpa mengabaikan orang lain. Sikap assertive berbeda dengan sikap agresif. Di Amerika Serikat, Kanada, dan negara-negara Skandinavia, assertiveness diajarkan di sekolah-sekolah sebagai wadah pembentuk karakter dan keperibadian. Dengan bekal assertiveness, bawahan tidak akan membiarkan  atasannya korupsi.

Tiba lah kita di bab yang diberi judul The Power of Simplicity. Sebelum kurikulum 2013 dijalankan, Indonesia adalah negara dengan jumlah mata ajar terbanyak di dunia yang diberikan untuk SD-SMA. Rata-rata pelajar SMA mendapat 16-18 mata ajar, sementara di beberapa negara lain hanya 5-7 mata ajar dengan jumlah jam pelajaran yang sama. Ketika anak-anak muda Indonesia harus menyelesaikan 144-160 SKS untuk menyelesaikan pendidikan S1-nya, di luar negeri cukup mengambil 124 SKS. Itu pun tanpa keharusan menulis skripsi. Dengan SKS yang lebih sedikit, mereka justru berpotensi menjadi manusia-manusia yang tangkas dan mempunyai ruang gerak yang besar untuk beraktivitas sosial. Tidak heran jika di Inggris sekarang banyak tawaran program S2 yang bisa ditempuh hanya dalam 55 minggu. Segala bentuk kekakuan yang begitu luas dan masif mencerminkan kekusutan berpikir dari para pengambil keputusan.

Banyak contoh-contoh kasus yang membuat saya sangat tertarik di bab Critical Thinking. Di berbagai kampus di belahan bumi bagian Barat, semua mahasiswa di jurusan apapun selama dua tahun pertama wajib mengambil mata kuliah liberal arts yang di dalamnya terdiri atas sejarah, matematika, science, rhetoric, kesenian, astronomi, ekonomi politik, sosiologi, dan bahasa. Tujuannya bukan untuk menghafal, namun menantang cara berpikir, menguji kebenaran secara ilmiah untuk membebaskan manusia dari mitos dan tradisi yang sempit. Bangsa yang tidak terbiasa berpikir kritis akan mudah terbawa arus, mudah percaya pada tahayul, terseret emosi, terlibat dalam penyebaran rumor yang belum tentu benar. Sebagai ilmuan generasi pertama, Socrates dianggap sebagai manusia pertama yang mengajarkan cara berpikir kritis. Setiap kali mendengar seseorang menyampaikan suatu berita, ia selalu menyampaikan tiga pertanyaan. “Apakah berita yang Anda ceritakan itu adalah sesuatu yang benar-benar Anda yakini kebenarannya?”, “Apakah itu tentang orang yang Anda cukup kenal dan tahu persis kehidupannya?”, “Apakah itu berita positif atau negatif?”.

Istilah executive functioning kini mulai dipakai para pendidik dan para ahli manajemen karena modal dasar bagi kaum muda untuk menjadi seorang good driver. Executive functioning diaktifkan melalui tiga elemen psikologis yang bisa dilatih, yaitu inhibitory control (tahu dan tidak melakukan apa yang tidak boleh diucapkan/dilakukan) dan self regulation (meregulasikan diri), working memory (kemampuan menata informasi dengan tanggap dalam memori), dan cognitive flexibility (kemampuan beradaptasi).

Inhibitory control intinya adalah pengendalian diri. Kaum muda butuh dilatih mengendalikan ego, berpikir dahulu sebelum bertindak, berpikir tentang orang lain, dan membentuk rasa hormat sehingga terbiasa mengendalikan diri. Seorang good driver harus mampu mematuhi peraturan yang berlaku saat mengemudikan dirinya. Working memory adalah sebuah keterampilan yang dilatih sedari dini untuk menyimpan beberapa informasi sekaligus, sementara informasi yang lain terus berdatangan dan kita harus memilih, mendahulukan satu diantaranya, namun tidak melupakan yang sudah pernah datang sebelumnya. Cognitive flexibility bisa diartikan sebagai kemampuan mental seseorang untuk mampu menghadapi perubahan dalam kondisi yang tidak diharapkan. Jadi seorang driver tidak hanya mampu berpikir kreatif namun juga harus bisa menyesuaikan diri dengan berbagai lingkungan yang berbeda.

Banyak cerita yang menarik tentang tokoh-tokoh penting yang akan mengubah cara pandang kita di buku ini, seperti Theodore Roosevelt, Soekarno, Ahmad Dahlan, Gus Dur, Sehat Sutardja, dan juga beberapa kisah unik yang terjadi disekeliling kita yang disebabkan masyarakat Indonesia masih kebingungan dalam membedakan fakta dan fiksi.

Sudahkah kita menentukan pilihan menjadi driver atau passenger?

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑